KOMINFO Sidoarjo - Dinas Kesehatan/Dinkes Sidoarjo terus masifkan skrining HIV untuk mencegah penyebaran penularan HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo. Lokasilokasi berisiko tinggi penularannya akan dijamah untuk mendeteksi keberadaan virus mematikan tersebut. Dalam satu tahun ini, Dinkes Sidoarjo akan melakukan kegiatan skrining HIV sebanyak 60 kali. Sampai saat ini sudah 30 kali kegiatan skrining HIV itu dilakukan. Hasilnya tercatat 7.230 penderita HIV/AIDS yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Jumlah tersebut tercatat mulai dari tahun 2001 sampai pertengahan tahun 2026 ini. Besarnya jumlah penderita HIV/AIDS itu bukan berarti penyebaran penyakit HIV di Sidoarjo semakin meningkat. Namun karena kegiatan skrining dan deteksi dini dari Dinkes Sidoarjo yang semakin meluas. Bulan Juli ini, Dinkes Sidoarjo akan kembali memulai skrining HIV. Sasarannya 30 titik tempat-tempat yang berpotensi tinggi terhadap penularan HIV. Pemeriksaan medis kepada pengunjung tempat tersebut akan dilakukannya. Seperti di lokalisasi terselubung maupun tempat hiburan malam. Harapannya ketika skrining HIV itu dimasifkan, penderita HIV/AIDS akan lebih awal memperoleh pengobatan Antiretroviral (ARV) untuk menjaga sistem kekebalan tubuh mereka. Dengan begitu, pencegahan perkembangan virus HIV menjadi AIDS dapat dilakukan dan akan memutus rantai penularannya ke orang lain. “Harapannya nanti ketika ada skrining, ini viral load-nya (partikel virus HIV) juga sudah semakin sedikit dan tidak terdeteksi lagi, sehingga dia tidak berisiko untuk menularkannya,” ucap Kepala Dinas Kesehayan Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, usai mendampingi Sekda Sidoarjo Fenny Apridawati menggelar pertemuan dengan Delta Crisis Center di kantor Bupati Sidoarjo, Rabu sore kemarin, (22/7). dr. Lakhsmie menyampaikan pendampingan akan terus dilakukan kepada mereka-mereka yang dinyatakan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Pendampingan dilakukan untuk memberikan dukungan emosional kepada mereka. Harapannya mereka dapat mengabaikan stigma masyarakat yang keliru terhadap penularan penyakit HIV/AIDS. Selain itu pendampingan penting dilakukan agar penderita HIV/AIDS lebih peduli terhadap penyakitnya dengan rajin minum obat ARV. Pendampingan juga melibatkan pihak-pihak yang peduli terhadap kondisi mereka seperti Yayasan Delta Crisis Center. “Selain dari Dinas Kesehatan, juga ada sejawat yang melakukan pendampingan pada mereka-mereka yang dinyatakan dengan ODHA, seperti Yayasan Delta Crisis Center ini. Jadi pendampingan sifatnya adalah untuk memberikan support supaya stigma masyarakat ini juga berkurang, kemudian yang bersangkutan juga rajin untuk minum ARV,” ucapnya. Ia juga mengatakan sosialisasi HIV/AIDS juga akan terus dilakukan. Seluruh Puskesmas telah rutin memberikan sosialisasi bahaya penularan HIV/AIDS kepada masyarakat. Rencananya ia akan mengggandeng sekolah maupun perusahaan agar upaya penanggulangan penyebaran HIV/AIDS lebih masif lagi. Lewat sosialisasi tersebut diharapkan akan mendorong perubahan perilaku masyarakat, khususnya kalangan remaja dan usia produktif terhindar dari aktivitas berisiko tertular HIV/AIDS. Seperti perilaku seksual berisiko dan penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) menggunakan jarum suntik bergantian. “Seluruh Puskesmas sudah memberikan sosialisasi. Dan ini rencananya kami juga akan bekerjasama dengan sekolah, dengan perusahaan, supaya pencegahan penularan HIV ini lebih masif lagi,” bebernya. dr. Lakhsmie juga mengatakan terdapat 60 kasus penderita HIV/AIDS di usia 11 sampai dengan 17 tahun. 60 kasus itu terhitung sejak tahun 2001 sampai dengan pertengahan tahun 2026 ini. Dari 60 kasus sejak 25 tahun lalu itu diketahui 7 anak telah meninggal dunia. Sehingga saat ini terdapat 53 penderita HIV/AIDS ber usia 11 sampai dengan 17 tahun. Mereka saat ini masih mendapatkan pengobatan dan pendampingan intensif dari Dinkes Sidoarjo. Ia sampaikan penularan HIV/AIDS usia pelajar tersebut akibat pergaulan yang tidak sehat. Temuan dilapangan yang cukup besar karena hubungan sesama jenis. Hubungan Lelaki Sama Lelaki (LSL) menjadi faktor pemicu penularan HIV/AIDS kepada pelajar. “Karena ini usia-usia yang relatif rasa keingintahuannya besar, bisa jadi karena dampak dari media sosial, kemudian dari coba-coba, kemudian juga dari pergaulan bisa. Sehingga akhirnya kami temukan di lapangan LSL-nya tuh cukup besar, seperti itu. Itu yang kami temukan di lapangan,” ucapnya. Ia menghimbau masyarakat agar tidak memiliki stigma negatif terhadap penderita HIV/AIDS. Apalagi mendiskriminasikan mereka. Masyarakat perlu paham cara penularan virus HIV tersebut. Sentuhan fisik biasa seperti berjabat tangan atau berpelukan tidak menularkan virus HIV. HIV juga dipastikan tidak menular lewat keringat, air mata, maupun gigitan nyamuk. Virus HIV sendiri tidak dapat bertahan hidup lama di luar tubuh manusia. “Penularan virus HIV umumnya terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, atau dari ibu positif HIV ke bayi selama kehamilan dan menyusui,” jelasnya. Disampaikannya, ODHA atau penderita HIV/AIDS harus rajin minum ARV. ARV wajib dikonsumsi meski penderita merasa kondisi tubuhnya sudah sehat. Berobat rutin sesuai jadwal yang ditentukan, minum ARV sesuai dosisnya dan waktunya akan menekan pertumbuhan virus mematikan tersebut. “Meski dia tidak berisiko untuk menularkan, tetap dia harus minum ARV-nya. Jadi jangan sampai kondisi sudah merasa enak tidak melanjutkan. Jadi saran kami adalah tetap berobat rutin sesuai dengan yang ditentukan, baik dosisnya maupun waktunya,”pungkasnya. Git
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Komunitas Songgo Seni Indonesia yang merupakan satu-satunya perwakilan Kabupaten Sidoarjo. Dalam ajang Festival Garudeya Mahambara 2026 yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Rabu (22/7/2026). Komunitas tersebut berhasil meraih predikat sebagai 5 Penampil Terbaik di antara peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Endah Budi Heryani, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Festival Garudeya Mahambara merupakan upaya pemajuan kebudayaan melalui seni pertunjukan sekaligus ruang bagi seniman menghidupkan kembali nilai-nilai dalam kisah Garudeya yang relevan bagi generasi masa kini. "Festival ini bukan sekadar ajang pertunjukan, tetapi media untuk melestarikan sejarah, filosofi, dan budaya melalui karya kreatif. Kami berharap para seniman terus mengembangkan tradisi secara bertanggung jawab agar warisan budaya tetap hidup dan dicintai masyarakat," ujarnya. Sebelumnya, Komunitas Songgo Seni Indonesia sukses menembus jajaran 10 besar dalam kompetisi yang diikuti 31 komunitas dan sanggar seni se-Jawa Timur. Pada babak penampilan terbaik, komunitas tersebut menampilkan karya berjudul “Garuda Samyukta” yang mengisahkan tentang perjuangan Garuda merebut air Amerta dan menaklukkan para dewa demi membebaskan ibunya, Dewi Winata, dari jerat perbudakan hingga akhirnya diangkat menjadi tunggangan Batara Wisnu. Achmad Pujilaksana, yang akrab disapa Mamak merupakan sutradara pertunjukan "Garuda Samyukta". Sebelum proses penggarapan, ia melakukan observasi di Candi Kidal, Malang, yang memiliki relief yang menggambarkan kisah tersebut. Hasil observasi itu kemudian diwujudkan dalam tujuh panel gambaran yang ditampilkan dalam pertunjukan. Penampilan komunitas tersebut mendapat apresiasi dari dewan juri maupun penonton. Dengan penghayatan karakter, kekompakan, serta penyampaian pesan yang kuat, mereka mampu menunjukkan kualitas seni pertunjukan yang membanggakan sekaligus membuktikan bahwa Kabupaten Sidoarjo mampu tampil kompetitif di panggung seni tingkat provinsi. Perwakilan Komunitas Songgo Seni Indonesia, Sutri Winurati, menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan menjadi lima penampil terbaik merupakan hasil kerja keras dan dukungan berbagai pihak. “Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan penuh yang telah diberikan oleh semua pihak. Berkat kerja sama dan semangat seluruh tim, Komunitas Songgo Seni Indonesia berhasil menjadi 5 penampil terbaik pada Festival Garudeya Mahambara 2026,” ujarnya. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Sukartini, yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo, Subandi dan Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana serta menyaksikan langsung penampilan Komunitas Songgo Seni Indonesia mengapresiasi prestasi yang diraih dalam Festival Garudeya Mahambara. “Pada Festival Garudeya Mahambara yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur pada 22 Juli 2026 di Gedung Kesenian Cak Durasim yang diikuti 31 komunitas dan sanggar seni, Kabupaten Sidoarjo melalui Komunitas Songgo Seni Indonesia berhasil meraih prestasi sebagai 5 Penampil Terbaik dan memperoleh hadiah pembinaan sebesar Rp15.000.000.” Keberhasilan ini membuktikan bahwa potensi seni budaya Kabupaten Sidoarjo mampu bersaing dan mendapat pengakuan di tingkat regional. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi para pelaku seni untuk terus berkarya, melestarikan budaya, serta menginspirasi generasi muda agar semakin mencintai warisan budaya daerah. (Mar)
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo - Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Sentra Kuliner Gajah Mada, Sidoarjo, Selasa (21/7/2026). Sidak dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi bangunan, fasilitas, serta aktivitas para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berjualan di kawasan tersebut. Dalam peninjauan itu, Mimik menemukan sejumlah persoalan yang dinilai perlu segera mendapat perhatian. Mulai dari kondisi bangunan yang kurang terawat, penataan lapak yang belum optimal, hingga ditemukannya retakan pada beberapa bagian bangunan yang dinilai membahayakan keselamatan pedagang maupun pengunjung. Menurut Mimik, kondisi para pelaku UMKM membutuhkan langkah nyata dan percepatan penataan agar aktivitas ekonomi masyarakat kembali bergairah. "Kasihan pelaku UMKM. Jangan sampai mereka terus bertahan dalam kondisi seperti ini. Penataan harus segera dilakukan agar tempat ini lebih layak, aman, dan mampu menarik lebih banyak pengunjung," tegas Mimik. Saat berkeliling, Mimik juga menyoroti penempatan lapak pedagang yang dinilai kurang merata. Beberapa lapak berada di bagian belakang sehingga minim terlihat oleh pengunjung. Ia pun meminta untuk menata ulang posisi pedagang agar seluruh pelaku usaha memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pembeli. "Kalau yang di belakang terus sepi karena tidak terlihat, tentu tidak adil. Penataannya harus dipikirkan supaya semua pedagang bisa berkembang," ujarnya. Selain itu, Mimik menilai kondisi bangunan yang kusam, beberapa bagian yang retak, hingga fasilitas yang kurang terawat tidak mencerminkan adanya pemeliharaan yang optimal. Bahkan saat melihat retakan pada salah satu pilar bangunan, Mimik langsung meminta agar dilakukan pemeriksaan teknis secepatnya. "Kalau sampai ada bagian bangunan yang jatuh dan menimpa pengunjung atau pedagang, siapa yang bertanggung jawab? Keselamatan harus menjadi prioritas," katanya. Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo, Amat Adi Subhan menjelaskan bahwa kawasan Sentra Kuliner Gajah Mada memiliki luas sekitar 2.147 meter persegi. Saat ini Pemerintah Kabupaten Sidoarjo tengah mengusulkan program revitalisasi dengan konsep yang lebih modern. "Konsep yang kami siapkan bukan hanya sentra kuliner, tetapi juga menjadi sentra oleh-oleh UMKM Kabupaten Sidoarjo yang dilengkapi ruang kelas untuk pelatihan dan pembinaan pelaku UMKM. Perencanaan sudah kami susun dan selanjutnya akan dibahas bersama tim TAPD," jelas Amat. Harapan terhadap revitalisasi juga disampaikan para pedagang. Salah satunya, Ali Sabana, penjual sop buntut yang telah lama berjualan di Sentra Kuliner Gajah Mada. Ia berharap penataan dan revitalisasi kawasan dapat mengembalikan keramaian sentra kuliner tersebut seperti beberapa tahun lalu. Menurutnya, keberadaan kegiatan hiburan seperti live music maupun berbagai aktivitas akhir pekan dahulu cukup efektif menarik masyarakat datang ke sentra kuliner tersebut. "Alhamdulillah kalau memang akan dikembangkan. Semoga semakin bagus dan ramai lagi seperti dulu. Dulu ada live musik dan di hari Minggu pagi ada senam yang sangat membantu penjualan kami. Mudah-mudahan nanti bisa dihidupkan kembali," harap Ali Sabana. Melalui sidak tersebut, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menegaskan komitmennya dalam mempercepat penataan dan revitalisasi Sentra Kuliner Gajah Mada agar menjadi kawasan usaha yang lebih aman, nyaman, tertata, serta mampu menarik lebih banyak pengunjung. (Mar)
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo - Pemkab Sidoarjo terus berupaya memperkuat komitmen mewujudkan lingkungan sehat dan bebas pencemaran. Termasuk melalui penilain Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 5 Pilar. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup warga sekaligus menekan risiko penyakit berbasis lingkungan. Proses verifikasi dilakukan oleh Tim Verifikator STBM Provinsi Jawa Timur di enam kecamatan dan 12 desa/kelurahan yang menjadi sampel. Lokasi tersebut meliputi Kecamatan Buduran (Desa Sidokepung dan Wadungasih), Waru (Desa Tambak Sumur dan Tambak Sawah), Sedati (Desa Pabean dan Sedati Agung), Tanggulangin (Desa Ketapang dan Putat), Porong (Desa Candipari dan Glagaharum), serta Prambon (Desa Jati Alun-alun dan Temu). Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Fenny Apridawati menyatakan, capaian sanitasi Sidoarjo sejauh ini merupakan hasil kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Menurut dia, komitmen daerah tidak berhenti pada status Open Defecation Free (ODF) atau Bebas Buang Air Besar Sembarangan yang diraih pada 2024, melainkan berlanjut menuju status STBM Paripurna. "Dari total 604.048 kepala keluarga di Sidoarjo, sebanyak 308.789 KK telah disurvei dan hasilnya 100 persen berstatus ODF. Ini menjadi modal penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat," kata Fenny dalam rapat koordinasi STBM di Kantor Setda Sidoarjo, Selasa (21/7/2026). Selain status ODF, indikator penerapan sanitasi lainnya di Sidoarjo menunjukkan tren positif. Sebanyak 99,78 persen rumah tangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, 95,43 persen pengelolaan sampah rumah tangga, serta 73,6 persen telah memiliki pengelolaan air limbah rumah tangga. Fenny menegaskan, upaya memenuhi target 100 persen pada seluruh pilar membutuhkan sinergi lintas sektor (hexahelix). Sanitasi tidak dapat dipandang hanya sebagai isu kesehatan, tetapi juga berkelindan dengan lingkungan, infrastruktur, pendidikan, peran dunia usaha, media, dan kesadaran warga. Sementara itu, Tim Verifikator STBM Provinsi Jawa Timur mengapresiasi rekam jejak Sidoarjo. Setelah meraih predikat ODF pada 2024, Sidoarjo meraih Juara 1 STBM Award Tingkat Pratama Nasional (2024) dan Tingkat Madya Nasional (2025). Pada 2026, Pemprov Jatim mendorong seluruh daerah bergerak masif memenuhi 5 Pilar STBM secara komprehensif. Dalam verifikasi lapangan, tim meninjau langsung penerapannya di pemukiman warga. Penilaian ini bertujuan memastikan capaian sanitasi tidak sebatas data administratif, melainkan benar-benar tecermin dalam perilaku hidup bersih dan sehat warga sehari-hari.(dew)
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo - Rindangnya pepohonan besar menyambut setiap orang yang memasuki Punden Kepuh di Desa Randegan, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Di balik keteduhan itu, berdiri sebuah kompleks makam tua yang hingga kini masih dijaga dan dihormati masyarakat sebagai bagian dari sejarah lahirnya desa.Suasana di kawasan punden terasa tenang. Burung-burung bersahutan dari balik pepohonan, sementara angin berembus pelan di antara dedaunan. Di tengah lingkungan yang masih asri itu, lebih dari 20 makam tua berjajar rapi. Sebagian nisannya terbuat dari batu andesit dengan bentuk sederhana dan motif flora yang mulai aus dimakan usia.Belum ada penelitian arkeologi yang memastikan kapan kompleks makam tersebut dibangun ataupun siapa saja tokoh yang dimakamkan di dalamnya. Namun bagi masyarakat Randegan, Punden Kepuh bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan ruang yang menyimpan ingatan kolektif tentang asal-usul desa dan jasa para leluhur.Di antara makam-makam tua itu terdapat makam yang diyakini masyarakat sebagai tempat peristirahatan terakhir Suryo Wiryodiharjo, atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Sosro. Dalam tradisi lisan yang berkembang, Mbah Sosro dihormati sebagai pembabat alas Desa Randegan dan tokoh yang meletakkan dasar kehidupan masyarakat.Suyadhim (72), juru kunci Punden Kepuh, mengatakan cerita mengenai Mbah Sosro dan sejarah punden diterimanya secara turun-temurun dari para sesepuh desa."Cerita ini saya terima dari juru kunci sebelumnya dan para sesepuh. Tugas saya sekarang menjaga makam sekaligus meneruskan cerita itu kepada generasi berikutnya agar tidak hilang," ujar Suyadhim.Menurutnya, masyarakat tidak hanya datang untuk berziarah, tetapi juga mendoakan para leluhur yang diyakini berjasa membuka wilayah tersebut."Yang datang ke sini biasanya berdoa. Kami mengingat jasa para leluhur yang membuka desa ini. Itu yang selalu kami jaga," katanya.Di kompleks Punden Kepuh, waktu seakan berjalan lebih lambat. Pepohonan tua menaungi makam-makam yang telah bertahan melewati berbagai zaman. Sebagian nisan menunjukkan bentuk yang lazim ditemukan pada makam-makam Islam kuno di Jawa. Meski demikian, penentuan usia maupun periodisasi situs tetap memerlukan penelitian arkeologi yang komprehensif sehingga tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan bentuk nisan.Menurut penuturan Suyadhim, para sesepuh desa meyakini Mbah Sosro hidup pada masa kejayaan Kesultanan Mataram. Keterangan tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan belum didukung sumber sejarah tertulis.Bagi masyarakat Randegan, nilai penting Punden Kepuh bukan hanya terletak pada usia makam, tetapi juga pada tradisi yang terus dipelihara hingga sekarang.Setiap tahun, warga menggelar Tradisi Keleman, yaitu syukuran setelah masa tanam padi. Warga membawa tumpeng dan hasil bumi ke Punden Kepuh sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan kepada para leluhur. Pada malam harinya, tradisi tersebut biasanya dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi bagian dari pelestarian budaya desa.Seorang warga Randegan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengatakan keberadaan Punden Kepuh menjadi pengingat agar masyarakat tidak melupakan sejarah desanya."Sejak kecil kami diajak orang tua datang ke punden saat ada Keleman. Kami diajari menghormati leluhur, bukan menyembahnya. Ini bagian dari sejarah desa yang harus dijaga," ujarnya.Penghormatan terhadap leluhur, menurut warga tersebut, juga menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat. Tradisi tahunan itu mempertemukan warga lintas generasi dalam satu ruang kebersamaan.Antropolog Koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi menjelaskan bahwa tradisi merupakan bagian dari sistem budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui tradisi, masyarakat tidak hanya menjaga peninggalan fisik, tetapi juga mempertahankan nilai, pengetahuan, dan identitas budaya yang membentuk kehidupan bersama.Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Warisan Budaya Takbenda yang dikembangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Tradisi, pengetahuan lokal, dan cerita yang diwariskan secara lisan merupakan bagian dari kekayaan budaya yang layak didokumentasikan dan dilestarikan.Hingga kini, Punden Kepuh masih berdiri tenang di tengah Desa Randegan. Mungkin belum semua kisah yang tersimpan di balik makam-makam tua itu berhasil diungkap melalui penelitian sejarah. Namun bagi masyarakat setempat, nilai terpenting bukan semata usia situs atau siapa yang dimakamkan di dalamnya, melainkan penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka jalan bagi lahirnya sebuah desa.Di tengah arus modernisasi, Punden Kepuh tetap menjadi ruang tempat sejarah, tradisi, dan ingatan kolektif masyarakat Randegan terus hidup. Warisan itu dijaga bukan hanya melalui cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut, tetapi juga melalui doa, gotong royong, dan Tradisi Keleman yang terus dilaksanakan dari generasi ke generasi. (Ir)
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo - Jalan Cokronegoro di depan Pendopo Delta Wibawa dipenuhi lautan warga yang antusias menyaksikan laga puncak Final Piala Dunia 2026 antara Tim Nasional Argentina melawan Tim Nasional Spanyol, Senin dini hari (20/7/2026). Ribuan warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Sidoarjo hadir mengikuti nonton bareng (nobar) yang digelar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama Forkopimda Sidoarjo. Bupati Sidoarjo H. Subandi bersama unsur Forkopimda turut membaur dengan masyarakat menikmati pertandingan yang berlangsung menegangkan sejak menit pertama. Meski masing-masing membawa dukungan kepada tim favoritnya, seluruh penonton tetap tertib dan kondusif. Pendukung Argentina dan Spanyol duduk berdampingan, saling menghormati, serta menunjukkan sportivitas sepanjang pertandingan. Laga final berlangsung ketat. Kedua kesebelasan sama-sama menampilkan permainan terbaiknya hingga waktu normal berakhir tanpa gol. Pertandingan pun harus dilanjutkan ke babak tambahan (extra time). Pada momen itulah Timnas Spanyol berhasil memanfaatkan peluang menjadi gol semata wayang yang memastikan kemenangan 1-0 sekaligus mengantarkan La Roja keluar sebagai Juara Piala Dunia 2026. Bupati Sidoarjo H. Subandi mengaku bersyukur kegiatan nobar berlangsung tertib, aman, dan penuh semangat kebersamaan. Menurutnya, sepak bola bukan sekadar olahraga, tetapi juga menjadi media yang mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. "Terima kasih kepada seluruh masyarakat Sidoarjo yang telah hadir dan bersamasama menjaga ketertiban selama acara berlangsung. Inilah semangat yang ingin kita bangun, bahwa perbedaan pilihan tidak menghalangi kita untuk tetap rukun, saling menghormati, dan menikmati pertandingan dengan penuh sportivitas. Semoga kebersamaan seperti ini terus terjaga di Kabupaten Sidoarjo," ujar Bupati Subandi. Selain menyaksikan pertandingan final, masyarakat juga disuguhi rangkaian hiburan berupa pengundian doorprize yang semakin menambah semarak suasana. Seluruh peserta yang hadir sebelumnya telah melakukan pendaftaran melalui website sebagai syarat mengikuti undian. Pemkab Sidoarjo menyiapkan berbagai hadiah menarik, mulai dari 4 paket umroh sebagai hadiah utama, 3 unit kulkas, 3 unit mesin cuci, serta 23 unit sepeda gunung. Pengundian dilakukan secara terbuka di hadapan ribuan peserta dan disambut sorak sorai warga setiap kali nama pemenang diumumkan. Salah satu penerima hadiah utama paket umroh, Ayu Citra, warga Desa Larangan, Kecamatan Candi, mengaku masih tidak percaya namanya terpilih sebagai pemenang. "Saya benar-benar tidak menyangka bisa mendapatkan hadiah umroh ini. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Terima kasih kepada Bapak Bupati atas hadiah yang sangat bermanfaat ini. Semoga Bapak Bupati selalu diberikan kesehatan, kelancaran dalam menjalankan tugas, dan semakin sukses memimpin Kabupaten Sidoarjo," ucapnya dengan wajah haru. Kegiatan Nobar Final Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa olahraga mampu menjadi perekat persatuan masyarakat. Antusiasme ribuan warga yang hadir, dipadukan dengan situasi yang aman dan kondusif, mencerminkan tingginya semangat kebersamaan masyarakat Sidoarjo dalam menikmati pesta sepak bola terbesar di dunia. Melalui kegiatan seperti ini, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berharap ruang-ruang kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat terus terbangun. Tidak hanya menghadirkan hiburan bagi warga, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan, solidaritas, serta semangat menjaga kondusivitas daerah dalam setiap momentum kebersamaan. Berikut Daftar Nama-Nama Pemenang Undian Doorprize Nobar Final Piala Dunia 2026 Bersama Forkopimda Sidoarjo 🎁 Hadiah Umroh - Ayu Citra, warga Desa Larangan, Candi - Ibnus Sodiq, warga Kelurahan Gebang, Sidoarjo - Yayuk Masturiyah, warga Desa Juwetkenongo, Porong - Aunur Rofik, warga Desa Entalsewu, Buduran 🎁 Hadiah Mesin Cuci - Fauzi Amrulloh, warga Desa Medalem, Tulangan - Muhammad Rifai Arif Gunawan, warga Desa Segorotambak, Sedati - Ismi Anisah Fauzi, warga Desa Gelam, Candi 🎁 Hadiah Kulkas - Erlangga Andi, warga Desa Siwalan panji, Buduran - Andriansyah, warga Desa Trosobo, Taman - Rahmat Fadeli, warga Kelurahan Kemasan, Krian 🎁 Hadiah Sepeda Gunung - Ervina Nisrinan Wardania, warga Desa Jati, Sidoarjo - Udin MJ, warga Desa Sumput, Sidoarjo - Latif Sugiaryo, warga Kelurahan Kemasan, Krian - Iwan Setiawan, warga Desa Celep, Candi - M. Abid Arifin, warga DesaTambakrejo, Waru - Mochamad Choirudin, warga Blurukidul, Sidoarjo - Faruk Eldison Febrianzah, warga Desa Kebonsari,Candi - Ahmad Syamsuddin, warga Desa Ketajen, Gedangan - Yosafat Johan Widasak Mekoa, warga Desa Cemengbakalan, Sidoarjo - Fenita Putri Andini, warga Desa Sukorejo, Buduran - Catur Yoga Prasetia, warga Desa Sadang, Sukodono - Abdillah Haki, warga Desa Larangan, Candi - Kiky Andridhitya, warga Desa Banjarkemantren, Buduran - Priyono, warga Desa Damarsi, Buduran - Adrian Adhipramana, warga Desa Kalisampurno, Tanggulangin - Hermawan Sahdubudi, warga Kedungturi, Taman - Jenengku Pandik, warga Kelurahan Gedang, Porong - Uli Shilia Budia, warga Desa Sumberejo, Wonoayu - Moh Haris Ashari, warga Kelurahan Taman, Taman - Dinar Aprilia Wanti, warga Desa Sidomulyo, Buduran - Wahyu Triongko, warga Desa Jogosatru, Sukodono - Moh Ardiansyah Yusu, warga Desa Betro, Sedati - Mochamad Rizalul Setia Budi, warga Desa Jatikalang, Krian (Son/mas)
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo - Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana, S.A.P., meninjau langsung kondisi SD Negeri Kupang 3 dan SD Negeri Kupang 4 di Kecamatan Jabon, Senin (20/7/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi sarana pendidikan di wilayah pesisir dan terpencil sekaligus mempercepat penanganan kerusakan bangunan sekolah dan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).Di SDN Kupang 3 yang berjumlah siswa tujuh puluh orang, Mimik menemukan sejumlah ruang kelas yang rusak. Kondisi bangunan dinilai masih belum layak karena atap bocor, dinding retak dan dinding pembatas antar kelas berlubang serta beberapa bagian memerlukan rehabilitasi menyeluruh."Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan. Kalau memang harus direhabilitasi total, segera direncanakan agar anak-anak bisa belajar dengan aman dan nyaman," tegasnya.Peninjauan dilanjutkan ke SDN Kupang 4. Sekolah yang berdiri sejak 1987 itu masih menggunakan beberapa ruang kelas yang kondisinya memprihatinkan. Menurut Mimik, empat ruang kelas menjadi prioritas rehabilitasi dengan menggunakan material yang sesuai karakteristik wilayah pesisir agar lebih tahan terhadap korosi akibat kadar garam yang tinggi."Walaupun siswanya hanya dua belas orang, mereka tetap memiliki hak mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak. Sekolah di daerah terpencil seperti ini harus menjadi perhatian bersama," ujarnya.Mimik juga mengapresiasi dedikasi para guru yang tetap mengajar meski harus menempuh perjalanan jauh dan menghadapi berbagai keterbatasan."Terima kasih atas pengabdian bapak dan ibu guru. Meskipun muridnya sedikit, tetap semangat mendidik mereka karena setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang terbaik," katanya.Selain itu, Mimik memastikan Program MBG segera menjangkau SDN Kupang 3, SDN Kupang 4, dan TK di kawasan tersebut. Selama ini para siswa belum menerima manfaat program karena pembangunan dapur pelayanan belum selesai dan lokasi distribusi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih cukup jauh."Sudah kami koordinasikan. Insya Allah akhir bulan ini MBG mulai disalurkan sehingga anak-anak di wilayah ini dapat segera merasakan manfaatnya," ungkapnya.Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Netty Lastiningsih, memastikan hasil peninjauan di SDN Kupang 3 dan SDN Kupang 4 akan segera ditindaklanjuti melalui kajian teknis. Menurutnya, rehabilitasi bangunan akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah pesisir agar lebih tahan terhadap kadar garam yang tinggi."Perbaikan akan menggunakan material yang sesuai dengan kondisi lingkungan pesisir sehingga bangunan lebih awet dan pemanfaatan anggaran menjadi lebih efektif. Kami juga memastikan Tunjangan Bantuan Pendidikan (TB) tahap I dan II bagi siswa yang memenuhi syarat dapat segera direalisasikan tahun ini," ujarnya.Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori mendorong peningkatan kesejahteraan guru di daerah terpencil melalui usulan tambahan insentif dan tunjangan transportasi pada APBD 2027."Guru di wilayah terpencil masih menanggung sendiri biaya transportasi. Karena itu kami mengusulkan adanya tunjangan khusus yang didukung regulasi daerah. Selain itu, wilayah Kupang Kecamatan Jabon juga harus menjadi prioritas Program Makan Bergizi Gratis serta mendapat perhatian dalam perbaikan akses jalan menuju sekolah," tegas Dhamroni.Sebagai bentuk kepedulian, Mimik turut menyerahkan bantuan kepada para guru dan siswa serta menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan hingga ke wilayah terpencil. (Mar)
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo – Kecamatan Gedangan berhasil meraih gelar juara umum Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-32 Tingkat Kabupaten Sidoarjo Tahun 2026 setelah mengumpulkan nilai tertinggi, yakni 166 poin. Sementara penghargaan defile terbaik diraih Kecamatan Sedati.Pengumuman pemenang disampaikan pada penutupan MTQ ke-32 Kabupaten Sidoarjo Tahun 2026 di Pendopo Delta Wibawa pada Senin Malam (20/7/2026). Bupati Sidoarjo, Subandi juga memberikan apresiasi kepada para peserta dengan menyiapkan dua tiket hadiah umrah seluruh juara 1 di setiap cabang musabaqah dengan pengundian. Selain itu, uang pembinaan bagi para pemenang akan disalurkan secara nontunai.Berdasarkan hasil akhir, Kecamatan Gedangan menempati peringkat pertama dengan skor 166 poin, disusul Kecamatan Candi di posisi kedua dengan 118 poin dan Kecamatan Waru di peringkat ketiga dengan 110 poin. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Sidoarjo 96 poin, Wonoayu 90 poin, Sedati 67 poin, Jabon 61 poin, Tulangan 47 poin, Tanggulangin 40 poin, Krian 37 poin, Porong 34 poin, Taman 28 poin, Balongbendo 25 poin. Sukodono 21 poin, Krembung 20 poin, Prambon 19 poin, Tarik 16 poin. dan Buduran 5 poin.Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo, Fenny Apridawati, mengatakan MTQ ke-32 tahun ini diikuti lebih dari 520 peserta yang berlaga pada 40 cabang musabaqah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 150 peserta berhasil meraih gelar juara.“Alhamdulillah, Kabupaten Sidoarjo merupakan gudangnya qari dan qariah. Melalui MTQ ini kita berharap terus lahir qari, qariah, hafiz, dan hafizah yang mampu mengharumkan nama Sidoarjo di tingkat Provinsi Jawa Timur hingga tingkat nasional,” ujarnya.Fenny juga memberikan motivasi kepada peserta yang belum berhasil meraih prestasi agar tidak berkecil hati. Menurutnya, MTQ bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan dan peningkatan kualitas generasi Qurani.“Yang belum menjadi juara jangan patah semangat. Teruslah berlatih dan belajar karena kesempatan untuk berprestasi di tingkat provinsi maupun nasional masih terbuka lebar,” pesannya.“Saya juga berharap melalui ajang ini semakin memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an serta mencetak generasi Qurani yang berakhlak mulia dan berprestasi,” tutupnya. (Dew)
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Sidoarjo, Sriatun Subandi, bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Fenny Apridawati serta Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo membuka Gebyar Pasar Rakyat Komunitas Bahan Pokok di Alun-alun Sidoarjo, Minggu (19/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Paguyuban Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) Sidoarjo tersebut menjadi upaya bersama untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memudahkan masyarakat memperoleh kebutuhan pokok.Acara diawali dengan senam bersama yang diikuti ratusan masyarakat. Suasana Alun-alun Sidoarjo sejak pagi tampak ramai oleh warga yang antusias mengikuti kegiatan sekaligus berbelanja berbagai kebutuhan pokok.Dalam pasar rakyat tersebut, masyarakat dapat membeli berbagai komoditas seperti minyak goreng kemasan 2 kilogram, beras kemasan 5 kilogram, gula pasir kemasan 1 kilogram, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya yang dijual dengan harga terjangkau dibawah harga pasar.Ketua TP PKK Kabupaten Sidoarjo Sriatun Subandi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk sinergi antara pemerintah daerah dengan Paguyuban KDMP dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok bagi masyarakat.Menurutnya, pemerintah daerah terus berkomitmen mendukung berbagai program pemerintah pusat untuk menjaga stabilitas harga pangan di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok."Saya berharap masyarakat Sidoarjo tidak perlu panik ataupun khawatir menghadapi kenaikan harga bahan pokok. Pemerintah hadir melalui berbagai program, salah satunya dengan melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih agar masyarakat tetap mudah mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau," ujarnya.Sriatun menjelaskan, saat ini sebanyak 68 KDMP di Kabupaten Sidoarjo telah aktif beroperasi dengan perkembangan usaha yang cukup menggembirakan. Ia berharap keberadaan koperasi tidak hanya aktif pada kegiatan tertentu, tetapi mampu memberikan pelayanan secara berkelanjutan kepada masyarakat."Kami berharap seluruh KDMP terus semangat melayani masyarakat setiap hari. Harga yang dijual harus tetap bersaing dengan harga pasar sehingga masyarakat semakin percaya dan menjadikan koperasi sebagai pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.Ia juga mendorong agar KDMP terus memperkuat kolaborasi dengan Dinas Koperasi, Dinas Pangan dan Pertanian serta berbagai pihak lainnya untuk menghadirkan pasar rakyat di berbagai kesempatan."Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat tidak hanya dapat menikmati berbagai produk UMKM dan kuliner, tetapi juga memperoleh bahan pokok dengan harga yang terjangkau. Mudah-mudahan kegiatan ini membawa keberkahan bagi semuanya," tambahnya.Salah seorang warga, Sunarti, mengaku senang dengan penyelenggaraan pasar rakyat tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok di tengah kondisi harga yang cenderung meningkat."Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo yang telah mengadakan pasar murah ini. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut karena sangat membantu perekonomian masyarakat. Kami bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau," ungkapnya. (Son)
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo – Di Desa Randegan, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, terdapat sebuah tradisi yang masih bertahan di tengah perubahan zaman. Meski berbagai jenis usaha kuliner berkembang, hampir tidak ditemukan warga asli desa yang membuka usaha berjualan nasi.Sebagai gantinya, masyarakat lebih banyak memilih berjualan lontong, mi ayam, bakso, atau jenis makanan lainnya. Bagi warga Randegan, hal tersebut bukan sekadar pilihan usaha, melainkan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.Masyarakat meyakini pantangan itu berawal dari titah Suryo Wiryodiharjo, yang lebih dikenal sebagai Mbah Sosro atau oleh sebagian warga disebut Mbah Cokro. Dalam tradisi lisan yang terus hidup, Mbah Sosro dihormati sebagai pembabat alas atau tokoh yang membuka Desa Randegan sekaligus mewariskan petuah yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat.Jejak penghormatan kepada Mbah Sosro masih dapat dijumpai di Punden Kepuh, sebuah kompleks makam tua yang berada di tengah hamparan sawah Desa Randegan. Rindangnya pepohonan besar menaungi kawasan tersebut sehingga menghadirkan suasana teduh dan tenang. Di dalam kompleks itu terdapat lebih dari 20 makam tua dengan nisan batu andesit bermotif flora yang telah aus dimakan usia. Meski belum pernah diteliti secara arkeologis, keberadaan situs ini menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas budaya masyarakat Randegan.Di tempat itulah Suyadhim (72), juru kunci Punden Kepuh, menjaga sekaligus meneruskan cerita yang diterimanya dari para sesepuh desa.Menurut penuturan yang diwariskan kepadanya, suatu ketika Suryo Wiryodiharjo atau Mbah Sosro bersama para pengikutnya melintasi kawasan yang kini menjadi Desa Randegan dalam keadaan lapar. Mereka mendatangi rumah-rumah penduduk untuk meminta nasi, namun tidak ada seorang pun yang memberikan makanan."Dari cerita yang saya terima dari para sesepuh, Mbah Sosro bersama pengikutnya sedang lapar. Beliau meminta nasi kepada warga, tetapi tidak ada yang memberikan," tutur Suyadhim.Dalam tradisi lisan yang berkembang di Randegan, sebagian sesepuh juga menafsirkan bahwa tindakan Mbah Sosro meminta nasi bukan semata-mata karena rombongannya sedang lapar. Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, hal itu dipahami sebagai cara Mbah Sosro menguji kepedulian dan kemurahan hati warga yang ditemuinya. Penafsiran tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat dan belum dapat dibuktikan melalui sumber sejarah tertulis.Setelah peristiwa itu, menurut cerita yang diwariskan masyarakat, Mbah Sosro mengucapkan titah yang kemudian diyakini menjadi asal-usul pantangan berjualan nasi bagi warga Randegan."Yang dipantangkan itu usaha jualan nasi. Kalau jualan lontong, lontong mi, mi ayam, bakso atau makanan lain tidak ada masalah," kata Suyadhim.Menurutnya, masyarakat meyakini pantangan tersebut tetap berlaku meskipun usaha berjualan nasi dilakukan di luar Desa Randegan. Cerita mengenai akibat melanggar pantangan juga masih hidup di tengah masyarakat. Dari penuturan para sesepuh, pelanggaran terhadap titah tersebut diyakini dapat membawa dua kemungkinan, yakni meninggal dunia atau mengalami kehidupan yang serba kekurangan, yang dalam istilah Jawa disebut "sandang, pangan, papane korat-karit." Keyakinan tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat dan belum didukung bukti sejarah maupun penelitian ilmiah.Punden Kepuh di Desa Randegan, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Masyarakat setempat meyakini kompleks makam ini merupakan tempat dimakamkannya Suryo Wiryodiharjo atau Mbah Sosro, tokoh yang dihormati sebagai pembabat alas Desa Randegan. (Foto: Irwan Susanto/Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sidoarjo)Seorang warga Randegan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku keluarganya tetap memegang pantangan tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur."Sejak kecil kami diajari orang tua untuk tidak berjualan nasi. Kami menghormati pesan leluhur. Kalau mencari rezeki, masih banyak usaha lain yang bisa dilakukan," ujarnya.Di balik pantangan itu, masyarakat juga meyakini Mbah Sosro membawa keberkahan bagi desa. Kepercayaan tersebut terutama dikaitkan dengan hasil pertanian yang melimpah."Rezekinya dicukupi, hasil panennya bagus dan memuaskan. Tapi pesan para leluhur jangan sampai menonjolkan diri. Tetap hidup sederhana," kata Suyadhim.Rasa syukur itu diwujudkan melalui Tradisi Keleman, yakni syukuran setelah masa tanam padi yang digelar setiap tahun di Punden Kepuh. Warga membawa tumpeng dan hasil bumi untuk didoakan bersama sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus mengenang jasa para leluhur. Pada malam harinya, tradisi tersebut dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang hingga kini masih dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya desa.Menurut penuturan Suyadhim, para sesepuh juga meyakini Mbah Sosro hidup pada masa kejayaan Kesultanan Mataram. Keterangan tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Sementara itu, keberadaan puluhan makam tua dengan tipologi nisan batu andesit di Punden Kepuh masih membuka peluang untuk dikaji lebih lanjut melalui penelitian sejarah maupun arkeologi.Antropolog Koentjaraningrat menjelaskan bahwa tradisi merupakan bagian dari sistem budaya yang diwariskan antargenerasi dan menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks Randegan, pantangan berjualan nasi dapat dipahami sebagai tradisi lisan yang membentuk identitas masyarakat. Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Warisan Budaya Takbenda yang dikembangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yaitu warisan budaya yang hidup melalui pengetahuan, nilai, dan praktik sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.Bagi masyarakat Randegan, kisah Mbah Sosro bukan sekadar cerita masa lalu. Ia tetap hidup dalam ingatan kolektif, dalam Tradisi Keleman yang terus dilaksanakan setiap tahun, serta dalam pilihan hidup masyarakat yang hingga kini masih menjaga pantangan berjualan nasi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Di tengah perubahan zaman, warisan budaya itu menjadi identitas Desa Randegan yang terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Ir)
Selengkapnya2.12.2025
2.12.2025
12.11.2025
28.10.2025
14.10.2025
9.10.2025
29.09.2025
17.09.2025
16.09.2025
8.09.2025
4.09.2025
3.09.2025
30.07.2025
23.07.2025
23.07.2025
17.07.2025
10.07.2025
10.07.2025
7.07.2025
7.07.2025
4.07.2025
12.06.2025
12.06.2025
19.05.2025
24.04.2025
11.04.2025
19.03.2025
17.03.2025
28.02.2025
26.02.2025
17.02.2025
3.02.2025
3.02.2025
23.01.2025
23.01.2025
20.01.2025
17.12.2024
13.12.2024
13.12.2024
19.11.2024
17.10.2024
17.10.2024
2.10.2024
17.09.2024
9.09.2024
30.08.2024
27.08.2024
25.07.2024
11.07.2024
27.05.2024
8.05.2024
1.04.2024
28.02.2024
25.01.2024
21.01.2024
18.01.2024
15.01.2024
10.01.2024
9.01.2024
9.01.2024
2.01.2024
22.12.2023
18.12.2023
3.12.2023
24.11.2023
20.11.2023
13.11.2023
9.11.2023
27.10.2023
10.10.2023
3.10.2023
13.09.2023
25.08.2023
22.08.2023
22.08.2023
26.07.2023
24.07.2023
28.06.2023
26.08.2026 - 30.08.2026
22.08.2026 - 28.08.2026
22.08.2026 - 23.08.2026
20.08.2026 - 23.08.2026
21.08.2026 - 23.08.2026
18.08.2026 - 19.08.2026
18.08.2026 - 22.08.2026
13.08.2026 - 20.08.2026
11.08.2026 - 17.08.2026
12.08.2026 - 14.08.2026
12.08.2026 - 14.08.2026
31.08.2026 - 1.09.2026
11.08.2026 - 12.08.2026
12.08.2026 - 14.08.2026
11.08.2026 - 14.08.2026
9.08.2026 - 12.08.2026
12.08.2026 - 14.08.2026
21.07.2026 - 27.07.2026
25.07.2026 - 30.07.2026
15.07.2026 - 22.07.2026
14.07.2026 - 20.07.2026
13.07.2026 - 14.07.2026
13.07.2026 - 15.07.2026
13.07.2026 - 30.07.2026
29.06.2026 - 30.06.2026
30.06.2026 - 10.07.2026
30.06.2026 - 10.07.2026
30.06.2026 - 4.07.2026
30.06.2026 - 11.07.2026
23.06.2026 - 24.06.2026
24.06.2026 - 28.06.2026
24.06.2026 - 28.06.2026
23.06.2026 - 28.06.2026
22.06.2026 - 26.06.2026
22.06.2026 - 27.06.2026
22.06.2026 - 30.06.2026
21.06.2026 - 23.06.2026
22.06.2026 - 28.06.2026
22.06.2026 - 27.06.2026
22.06.2026 - 28.06.2026
22.06.2026 - 28.06.2026
17.06.2026 - 26.06.2026
17.06.2026 - 28.06.2026
17.06.2026 - 23.06.2026
15.06.2026 - 22.06.2026
12.06.2026 - 26.06.2026
15.06.2026 - 21.06.2026
15.06.2026 - 20.06.2026
15.06.2026 - 25.06.2026
15.06.2026 - 20.06.2026
15.06.2026 - 20.06.2026
9.06.2026 - 15.06.2026
31.05.2026 - 14.06.2026
16.05.2026 - 19.06.2026
9.06.2026 - 12.06.2026
8.06.2026 - 12.06.2026
8.06.2026 - 15.06.2026
2.06.2026 - 8.06.2026
8.06.2026 - 11.06.2026
7.06.2026 - 30.06.2026
4.06.2026 - 14.06.2026
4.06.2026 - 18.06.2026
4.06.2026 - 31.03.2027
31.05.2026 - 1.06.2026
1.06.2026 - 3.06.2026
1.06.2026 - 4.06.2026
25.05.2026 - 18.06.2026
25.05.2026 - 26.05.2026
15.05.2026 - 30.06.2026
19.05.2026 - 25.05.2026
20.05.2026 - 3.06.2026
19.05.2026 - 20.05.2026
13.05.2026 - 17.05.2026
18.05.2026 - 22.05.2026
12.05.2026 - 17.05.2026
18.05.2026 - 18.05.2026
19.05.2026 - 23.05.2026
11.05.2026 - 18.05.2026
12.05.2026 - 18.05.2026
12.05.2026 - 17.05.2026
10.05.2026 - 13.05.2026
6.05.2026 - 8.05.2026
4.05.2026 - 29.10.2026
5.05.2026 - 11.05.2026
6.05.2026 - 18.05.2026
4.05.2026 - 4.05.2026
4.05.2026 - 7.05.2026
4.05.2026 - 11.05.2026
28.04.2026 - 6.05.2026
29.04.2026 - 3.06.2026
28.04.2026 - 21.05.2026
22.05.2026 - 23.05.2026
28.04.2026 - 6.05.2026
27.04.2026 - 4.05.2026
27.04.2026 - 4.05.2026
24.04.2026 - 25.04.2026
27.04.2026 - 3.05.2026
22.04.2026 - 27.04.2026
21.04.2026 - 22.04.2026
21.04.2026 - 5.05.2026
21.04.2026 - 23.04.2026
20.04.2026 - 24.04.2026
14.04.2026 - 17.04.2026
13.04.2026 - 17.04.2026
14.04.2026 - 15.04.2026
10.04.2026 - 1.07.2026
2.04.2026 - 4.04.2026
2.04.2026 - 6.04.2026
27.03.2026 - 18.04.2026
27.02.2026 - 6.03.2026
25.02.2026 - 12.03.2026
26.02.2026 - 27.02.2026
24.02.2026 - 19.03.2026
14.02.2026 - 14.03.2026
7.03.2026 - 15.03.2026
23.02.2026 - 20.03.2026
13.02.2026 - 14.02.2026
11.02.2026 - 10.03.2026
11.02.2026 - 15.02.2026
9.01.2026 - 31.01.2026
8.01.2026 - 15.01.2026
15.01.2026 - 22.01.2026
8.01.2026 - 11.01.2026
6.01.2026 - 25.01.2026
6.01.2026 - 11.01.2026
21.12.2025 - 28.12.2025
18.12.2025 - 21.12.2025
18.12.2025 - 22.01.2026
16.12.2025 - 18.12.2025
15.12.2025 - 16.12.2025
1.12.2025 - 15.12.2025
19.12.2025 - 20.12.2025
24.10.2025 - 28.10.2025
22.09.2025 - 19.10.2025
2.11.2025 - 2.11.2025
15.09.2025 - 12.10.2025
9.09.2025 - 14.10.2025
3.09.2025 - 4.09.2025
4.09.2025 - 30.09.2025
10.06.2025 - 17.06.2025
10.06.2025 - 24.06.2025
5.06.2025 - 16.06.2025
4.06.2025 - 10.06.2025
3.06.2025 - 10.06.2025
3.06.2025 - 10.06.2025
2.06.2025 - 5.06.2025
27.05.2025 - 28.05.2025
26.05.2025 - 28.05.2025
26.05.2025 - 3.06.2025
23.05.2025 - 2.06.2025
22.05.2025 - 25.05.2025
22.05.2025 - 25.05.2025
22.05.2025 - 26.05.2025
22.05.2025 - 25.05.2025
22.05.2025 - 25.05.2025
19.05.2025 - 25.05.2025
16.05.2025 - 18.05.2025
13.05.2025 - 20.05.2025
16.05.2025 - 18.05.2025
15.05.2025 - 16.05.2025
14.05.2025 - 24.05.2025
9.05.2025 - 22.05.2025
9.05.2025 - 11.05.2025
9.05.2025 - 9.06.2025
8.05.2025 - 15.05.2025
8.05.2025 - 19.05.2025
5.05.2025 - 11.05.2025
5.05.2025 - 20.05.2025
5.05.2025 - 24.05.2025
23.04.2025 - 2.05.2025
21.04.2025 - 28.04.2025
17.03.2025 - 10.04.2025
14.03.2025 - 17.03.2025
14.03.2025 - 16.03.2025
12.03.2025 - 13.03.2025
12.03.2025 - 20.03.2025
11.03.2025 - 16.03.2025
10.03.2025 - 13.03.2025
7.03.2025 - 9.03.2025
6.03.2025 - 24.03.2025
6.03.2025 - 11.03.2025
8.03.2025 - 23.03.2025
3.03.2025 - 17.03.2025
1.03.2025 - 20.03.2025
27.02.2025 - 26.03.2025
24.02.2025 - 24.03.2025
24.02.2025 - 24.02.2025
23.02.2025 - 26.02.2025
8.03.2025 - 22.03.2025
21.02.2025 - 23.02.2025
19.02.2025 - 21.02.2025
18.02.2025 - 21.02.2025
18.02.2025 - 19.02.2025
18.02.2025 - 19.02.2025
18.02.2025 - 27.02.2025
18.02.2025 - 28.02.2025
28.02.2025 - 28.02.2025
14.02.2025 - 26.02.2025
14.02.2025 - 28.02.2025
13.02.2025 - 23.02.2025
10.02.2025 - 12.03.2025
10.02.2025 - 11.02.2025
6.02.2025 - 6.03.2025
6.02.2025 - 6.03.2025
6.02.2025 - 23.02.2025
5.02.2025 - 5.03.2025
5.02.2025 - 22.02.2025
4.02.2025 - 5.02.2025
4.02.2025 - 5.02.2025
3.02.2025 - 8.02.2025
29.01.2025 - 30.01.2025
29.01.2025 - 30.01.2025
30.01.2025 - 28.02.2025
22.01.2025 - 26.01.2025
22.01.2025 - 26.01.2025
22.01.2025 - 22.02.2025
22.01.2025 - 26.01.2025
17.01.2025 - 22.01.2025
20.01.2025 - 25.01.2025
24.01.2025 - 26.02.2025
20.01.2025 - 27.02.2025
9.01.2025 - 22.02.2025
8.01.2025 - 8.02.2025
7.01.2025 - 11.02.2025
7.01.2025 - 7.02.2025
7.01.2025 - 28.01.2025
6.01.2025 - 6.02.2025
6.01.2025 - 6.02.2025
3.01.2025 - 23.01.2025
3.01.2025 - 3.02.2025
30.12.2024 - 31.12.2024
31.12.2024 - 31.01.2025
30.12.2024 - 31.12.2024
27.12.2024 - 27.01.2025
25.12.2024 - 29.12.2024
19.12.2024 - 27.12.2024
19.12.2024 - 19.01.2025
19.12.2024 - 19.01.2025
18.12.2024 - 24.12.2024
17.12.2024 - 17.01.2025
17.12.2024 - 23.12.2024
13.12.2024 - 15.12.2024
15.12.2024 - 21.12.2024
4.12.2024 - 5.12.2024
29.11.2024 - 3.12.2024
1.12.2024 - 28.03.2025
1.12.2024 - 15.12.2024
29.11.2024 - 1.12.2024
2.12.2024 - 8.12.2024
30.11.2024 - 1.12.2024
28.11.2024 - 29.11.2024
27.11.2024 - 30.11.2024
26.11.2024 - 28.11.2024
24.11.2024 - 25.11.2024
21.11.2024 - 21.11.2024
22.11.2024 - 24.11.2024
29.11.2024 - 4.12.2024
21.11.2024 - 26.12.2024
20.11.2024 - 20.12.2024
14.11.2024 - 16.11.2024
14.11.2024 - 22.12.2024
13.11.2024 - 15.11.2024
13.11.2024 - 17.11.2024
14.11.2024 - 16.11.2024
13.11.2024 - 14.11.2024
14.11.2024 - 14.11.2024
5.11.2024 - 5.11.2024
1.11.2024 - 3.11.2024
31.10.2024 - 1.11.2024
30.10.2024 - 30.11.2024
3.11.2024 - 3.11.2024
29.10.2024 - 29.11.2024
25.10.2024 - 27.10.2024
31.10.2024 - 8.11.2024
28.10.2024 - 1.11.2024
18.10.2024 - 20.10.2024
18.10.2024 - 20.10.2024
26.10.2024 - 27.10.2024
13.10.2024 - 13.10.2024
14.10.2024 - 14.11.2024
13.10.2024 - 13.10.2024
9.10.2024 - 11.10.2024
8.10.2024 - 25.10.2024
2.10.2024 - 30.10.2024
2.10.2024 - 8.10.2024
1.10.2024 - 1.11.2024
30.09.2024 - 1.10.2024
27.09.2024 - 30.09.2024
30.09.2024 - 2.10.2024
27.09.2024 - 29.09.2024
30.09.2024 - 1.10.2024
27.09.2024 - 29.09.2024
27.09.2024 - 27.10.2024
26.09.2024 - 27.09.2024
26.09.2024 - 27.09.2024
26.09.2024 - 27.09.2024
24.09.2024 - 25.09.2024
24.09.2024 - 25.09.2024
23.09.2024 - 23.10.2024
20.09.2024 - 22.09.2024
19.09.2024 - 24.09.2024
31.12.2024 - 31.12.2024
18.09.2024 - 22.09.2024
18.09.2024 - 18.09.2024
13.09.2024 - 14.09.2024
13.09.2024 - 20.09.2024
11.09.2024 - 22.09.2024
10.09.2024 - 12.09.2024
10.09.2024 - 11.09.2024
8.09.2024 - 9.09.2024
6.09.2024 - 8.09.2024
5.09.2024 - 6.09.2024
4.09.2024 - 5.09.2024
30.08.2024 - 1.09.2024
29.08.2024 - 1.09.2024
2.09.2024 - 25.09.2024
1.09.2024 - 3.09.2024
26.08.2024 - 28.08.2024
27.08.2024 - 1.09.2024
6.09.2024 - 15.09.2024
23.08.2024 - 24.08.2024
23.08.2024 - 25.08.2024
23.08.2024 - 24.08.2024
26.08.2024 - 1.09.2024
23.08.2024 - 23.08.2024
20.08.2024 - 8.09.2024
14.08.2024 - 16.08.2024
13.08.2024 - 14.08.2024
9.08.2024 - 11.08.2024
12.08.2024 - 21.08.2024
10.08.2024 - 12.08.2024
9.08.2024 - 14.08.2024
7.08.2024 - 9.08.2024
7.08.2024 - 7.08.2024
12.08.2024 - 17.08.2024
1.08.2024 - 4.08.2024
1.08.2024 - 4.08.2024
1.08.2024 - 3.08.2024
1.08.2024 - 18.08.2024
31.07.2024 - 8.08.2024
30.07.2024 - 15.08.2024
30.07.2024 - 21.08.2024
26.07.2024 - 28.07.2024
24.07.2024 - 26.07.2024
29.07.2024 - 29.07.2024
25.07.2024 - 28.07.2024
19.07.2024 - 23.07.2024
18.07.2024 - 21.07.2024
16.07.2024 - 25.07.2024
16.07.2024 - 16.07.2024
28.07.2024 - 1.08.2024
15.07.2024 - 30.07.2024
16.07.2024 - 31.07.2024
17.07.2024 - 1.08.2024
11.07.2024 - 12.07.2024
11.07.2024 - 19.07.2024
10.07.2024 - 31.12.2024
13.07.2024 - 16.07.2024
5.07.2024 - 14.07.2024
1.07.2024 - 28.10.2024
28.06.2024 - 30.06.2024
27.06.2024 - 28.06.2024
24.06.2024 - 25.06.2024
20.06.2024 - 23.06.2024
21.06.2024 - 24.06.2024
21.06.2024 - 23.06.2024
24.06.2024 - 29.06.2024
13.06.2024 - 14.06.2024
12.06.2024 - 18.06.2024
11.08.2024 - 11.08.2024
10.06.2024 - 11.06.2024
6.06.2024 - 8.06.2024
20.03.2024 - 20.03.2024
4.06.2024 - 27.09.2024
3.06.2024 - 7.06.2024
3.06.2024 - 30.06.2024
2.06.2024 - 3.06.2024
3.06.2024 - 14.06.2024
31.05.2024 - 10.06.2024
1.06.2024 - 6.06.2024
29.05.2024 - 30.05.2024
30.05.2024 - 9.06.2024
27.05.2024 - 29.05.2024
17.05.2024 - 19.05.2024
14.05.2024 - 16.05.2024
14.05.2024 - 19.05.2024
13.05.2024 - 15.05.2024
13.05.2024 - 30.06.2024
13.05.2024 - 31.07.2024
7.05.2024 - 8.05.2024
8.05.2024 - 1.12.2024
7.05.2024 - 8.05.2024
3.05.2024 - 1.07.2024
30.04.2024 - 30.04.2024
29.04.2024 - 7.05.2024
29.04.2024 - 30.04.2024
29.04.2024 - 7.05.2024
28.04.2024 - 29.04.2024
27.05.2024 - 29.05.2024
25.04.2024 - 26.04.2024
25.04.2024 - 26.04.2024
16.04.2024 - 15.05.2024
27.04.2024 - 30.04.2024
25.04.2024 - 11.05.2024
22.04.2024 - 5.05.2024
16.04.2024 - 15.05.2024
23.04.2024 - 25.04.2024
14.04.2024 - 14.05.2024
23.04.2024 - 24.04.2024
20.04.2024 - 24.04.2024
14.05.2024 - 15.05.2024
5.04.2024 - 7.04.2024
13.04.2024 - 14.04.2024
23.04.2024 - 24.04.2024
29.04.2024 - 30.04.2024
16.04.2024 - 15.05.2024
27.03.2024 - 28.03.2024
27.03.2024 - 31.03.2024
23.03.2024 - 25.03.2024
24.03.2024 - 26.03.2024
25.03.2024 - 26.03.2024
22.03.2024 - 25.03.2024
21.03.2024 - 31.03.2024
17.03.2024 - 2.04.2024
22.03.2024 - 6.04.2024
19.03.2024 - 21.03.2024
18.03.2024 - 31.03.2024
16.03.2024 - 19.03.2024
18.03.2024 - 21.03.2024
18.03.2024 - 19.03.2024
6.03.2024 - 26.03.2024
7.03.2024 - 8.03.2024
6.03.2024 - 8.03.2024
6.03.2024 - 7.03.2024
6.03.2024 - 6.04.2024
6.03.2024 - 7.03.2024
6.03.2024 - 8.03.2024
5.03.2024 - 7.03.2024
1.02.2024 - 1.02.2024
4.03.2024 - 4.03.2024
4.03.2024 - 8.03.2024
27.02.2024 - 28.02.2024
2.03.2024 - 8.03.2024
29.02.2024 - 1.03.2024
23.02.2024 - 25.02.2024
24.02.2024 - 9.03.2024
23.02.2024 - 27.02.2024
21.02.2024 - 26.02.2024
24.02.2024 - 24.02.2024
29.02.2024 - 4.03.2024
19.02.2024 - 25.02.2024
19.02.2024 - 20.02.2024
20.02.2024 - 20.02.2024
21.02.2024 - 22.02.2024
16.02.2024 - 16.02.2024
12.02.2024 - 8.04.2024
12.02.2024 - 20.02.2024
1.02.2024 - 7.03.2024
5.02.2024 - 7.02.2024
2.02.2024 - 8.02.2024
2.02.2024 - 17.02.2024
1.02.2024 - 24.02.2024
28.01.2024 - 28.01.2024
30.01.2024 - 7.02.2024
26.01.2024 - 26.01.2024
28.01.2024 - 28.01.2024
26.01.2024 - 27.01.2024
24.01.2024 - 24.01.2024
23.01.2024 - 4.02.2024
17.01.2024 - 17.02.2024
18.01.2024 - 31.01.2024
18.01.2024 - 31.01.2024
13.01.2024 - 21.01.2024
20.01.2024 - 21.01.2024
22.01.2024 - 23.01.2024
12.01.2024 - 14.01.2024
11.01.2024 - 25.02.2024
11.01.2024 - 12.01.2024
10.01.2024 - 8.02.2024
5.01.2024 - 7.01.2024
29.12.2023 - 29.01.2024
28.12.2023 - 30.12.2023
22.12.2023 - 31.12.2023
22.12.2023 - 24.12.2023
30.11.2023 - 20.01.2024
11.12.2023 - 12.12.2023
30.11.2023 - 3.12.2023
10.11.2023 - 12.11.2023
8.11.2023 - 10.11.2023
8.11.2023 - 9.11.2023
3.11.2023 - 5.11.2023
9.11.2023 - 10.11.2023
29.10.2023 - 1.11.2023
27.10.2023 - 22.11.2023
23.10.2023 - 5.11.2023
23.10.2023 - 29.11.2023
20.10.2023 - 21.10.2023
17.10.2023 - 29.10.2023
16.10.2023 - 22.10.2023
11.08.2023 - 11.08.2023
16.09.2023 - 17.09.2023
19.06.2023 - 18.07.2023
30.06.2023 - 30.06.2023
1.07.2023 - 2.07.2023
Visitors : 2113056