SIDOARJO

BERSIH RESPONSIF AMANAH

BERITA

Ikuti terus kabar Sidoarjo terkini.

Lihat Semua
12 Aug
Kukuhkan Ratusan Kepala SD dan SMP Negeri, Bupati Subandi Ingatkan Jabatan Itu Amanah

KOMINFO, Sidoarjo - Ratusan kepala sekolah SD dan SMP negeri menjalani mutasi dan promosi. Total 227 kepala SD dan SMP negeri dikukuhkan oleh Bupati Sidoarjo, Subandi di Pendopo Delta Wibawa pada Rabu (12/8/2026). Tugas besar mereka memastikan tidak ada lagi anak putus sekolah di Kabupaten Sidoarjo.  “Kepala sekolah harus memastikan tidak ada anak Sidoarjo yang putus sekolah karena alasan ekonomi, dan setiap potensi mendapat kesempatan untuk berkembang,” kata Subandi di hadapan ratusan kepala sekolah serta pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sidoarjo.  Atas nama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, Subandi mengucapkan selamat atas  amanah yang diemban sebagai para kepala sekolah. Dia berpesan, kepala sekolah harus mampu memegang teguh tanggung jawab memimpin satuan pendidikan. Harus mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Sidoarjo. Jabatan kepala sekolah bukanlah tempat mencari kenyamanan, melainkan ruang untuk menunjukkan kinerja terbaik dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan sumber daya manusia.  “Bapak dan Ibu kepala sekolah, ingatlah bahwa jabatan ini bukan sekadar posisi, melainkan amanah sebagai pemimpin pembelajaran, penggerak budaya positif, dan penentu arah perubahan,” ucapnya. Subandi menegaskan, sekolah maju lahir dari kepemimpinan yang mampu menggerakkan guru, memastikan setiap anak mendapat pendidikan bermutu, serta membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak-anak didik. Disampaikan kembali bahwa sekolah merupakan bagian penting dari pembangunan Kabupaten Sidoarjo. Visi Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo 2025–2030 adalah “Menata Desa, Membangun Kota: Menuju Sidoarjo Metropolitan Inklusif, Berdaya Saing, Sejahtera, Dan Berkelanjutan”. Visi dan misi itu hanya terwujud dengan sumber daya manusia yang kuat dan berkualitas. “Peran kepala sekolah di sini, membentuk generasi masa depan melalui pendidikan yang inklusif, transparan, dan akuntabel,” ujarnya.Subandi juga meminta seluruh kepala sekolah mendukung program prioritas Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Salah satunya adalah program 20.000 beasiswa pendidikan. Kepala sekolah harus memastikan tidak ada anak Sidoarjo yang putus sekolah karena alasan ekonomi.  “Pemerintah daerah berkomitmen pada program prioritas, termasuk 20.000 beasiswa pendidikan,” sebutnya. Subandi juga mewanti-wanti para kepala sekolah agar lebih bijak menyikapi kegiatan ODL (outdoor learning). Pelaksanaan pembelajaran di luar kelas tersebut diharapkan dapat disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Oleh karena itu, pelaksanaan ODL cukup di dalam daerah saja. Cukup di dalam Provinsi Jawa Timur.  “Kadang saya kasihan melihat ODL terlalu jauh. Apalagi ada anak yang tidak mampu. Ini kan jadi kesenjangan yang ada di sekolah. Bapak kelola dengan baik. Tidak usah jauh-jauh. Yang penting teman-teman mampu,” ucapnya. Subandi juga berpesan kepada kepala sekolah yang baru agar cermat dalam mengelola program bantuan revitalisasi sekolah dari pemerintah pusat. Program perbaikan fasilitas sekolah tersebut diharapkannya dapat dikerjakan dengan baik. Pembangunannya harus sesuai spek. Komunikasi yang baik harus dilakukan dengan kontraktor yang sudah ditunjuk.  "Karena, saya takutnya kepala sekolah yang baru ini butuh adaptasi. Jangan sampai nanti ada kepala sekolah yang baru. Dia, sebagai pengelola swakelola, ternyata pengelolaanya pembangunan tidak sesuai dengan spek, tidak sesuai dengan pembangunan,” tandasnya. Subandi berharap tidak ada kepala sekolah yang tersangkut kasus hukum akibat buruknya pelaksanaan program revitalisasi di sekolahnya. Ia berpesan agar kepala sekolah meminta pendampingan kepada Inpektorat Kabupaten Sidoarjo dalam menjalankan program swakelola tersebut. "Silakan Pak Inspektur kasih pendampingan. Biarkan nanti teman-teman kepala sekolah ini betul-betul mendapat pendampingan dalam program perbaikan yang ada di sekolahnya agar selesai dengan baik. Tidak ada urusan dan masalah dengan APH,” ucapnya. Ia juga menegaskan bahwa pengisian jabatan kepala sekolah ini bebas dari titipan. Dia meyakinkan bahwa 100 persen tidak ada gratifikasi dalam pengisian pejabat kepala sekolah SD SMP negeri kali ini. Jika suatu saat diketahui ada gratifikasi dalam pengisian jabatan kepala sekolah, sanksinya tegas. Yaitu, diberhentikan dari aparatur sipil negara (ASN) dan guru.  “Kalau sampai terjadi ada gratifikasi, akan kita berhentikan. Satu sebagai ASN. Yang kedua sebagai guru. Ini penting karena Panjenengan semua adalah pembangun generasi. Masa depan anak kita bergantung Panjenengan,” ucapnya. Sementara itu Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo Netti Lastiningsih mengatakan, dari 254 kepala sekolah tersebut, 90 kepala sekolah SD negeri merupakan jabatan hasil promosi. Sisanya hanya bergeser tempat, tetap menjabat sebagai kepala sekolah. Sedangkan jabatan promosi kepala sekolah SMP negeri diisi sebanyak 12 orang. Sisanya hanya mutasi ke SMP negeri lain, yaitu sebanyak 15 orang. Menurut dia, poses seleksi pemilihan kepala sekolah dilakukan secara transparan. Serangkaian tahapan mulai seleksi administrasi hingga wawancara telah dilakukan untuk menetapkan seorang ASN lolos menjabat sebagai kepala sekolah. Tim Penilai Kinerja (TPK) dan Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) yang menentukan promosi jabatan kepala sekolah. "Kemudian mutasi juga begitu. Ini juga ada penilaian dari PPK yang dipimpin oleh Ibu Sekda. Kemudian ditetapkan oleh SK Bapak Bupati," jelasnya. Proses selanjutnya dilaksanakan melalui aplikasi yang namanya aplikasi SIM KSPSTK (Sistem Informasi dan Manajemen Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan) dari Kemendikdasmen. Juga ada aplikasi dari BKN. Input dua aplikasi itu disinkronisasi sampai keluar pertek (pertimbangan teknis).  "Pertek-nya turun, kemudian baru bisa dilakukan proses pengukuhan hari ini," bebernya. Git/mas 

Agenda / Kegiatan

Selengkapnya

Widget Kominfo

Tentang

Mengenal sidoarjo

SEKILAS SEJARAH SIDOARJOPada tahun 1851, Sidoarjo masih bernama Sidokarie yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Saat itu, Sidokarie dipimpin oleh seorang Patih yang bernama R. Ng. Djojohardjo dan dibantu oleh seorang wedono bernama Bagus Ranuwirjo.SIDOARJO BERDIKARIPada tanggal 31 Januari 1859, berdasarkan keputusan Charles Ferdinand Pahud yang menjabat sejak 1856 s/d 1861 sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 9/1859 Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 6.a, Regentschap (Kabupaten) Surabaya dipecah menjadi 2, yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokarie yang dipimpin oleh seorang Bupati.Kabupaten Sidokarie terdiri dari 6 Kawedanan (distrik) : 1. Djenggolo I Kawedanan Gedangan; 2. Djenggolo II Kawedanan Sidoarjo; 3. Djenggolo III Kawedanan Krian; 4. Djenggolo IV Kawedanan Taman; 5. Rawa Pulo I Kawedanan Porong; 6. Rawa Pulo II Kawedanan Bulang.SELAYANG PANDANG KABUPATEN SIDOARJOPETA KABUPATEN SIDOARJOPeta Kabupaten SidoarjoKabupaten Sidoarjo bertopografi datar. Terletak pada ketinggian 0 - 25 mdpl. Terbagi dalam tiga bagian (timur - tengah - barat)Luas wilayah Kabupaten Sidoarjo: + 76.000 Ha.Luas wilayah laut : 15.539 HaJumlah Kecamatan : 18 KecamatanNOKECAMATANNOKECAMATAN1Kecamatan Sidoarjo2Kecamatan Candi3Kecamatan Tanggulangin4Kecamatan Porong5Kecamatan Jabon6Kecamatan Krembung7Kecamatan Tulangan8Kecamatan Prambon9Kecamatan Tarik10Kecamatan Sukodono11Kecamatan Taman12Kecamatan Krian13Kecamatan Buduran14Kecamatan Gedangan15Kecamatan Sedati16Kecamatan Wonoayu17Kecamatan Waru18Kecamatan BalongbendoJumlah Desa/Kelurahan : 318 Desa dan 28 KelurahanKabupaten Sidoarjo memiliki lambang segilima, berbintang satu, serta setangkai padi, depalan belas butir dan sebatang tebu lima ruas dengan bentuk bulat. Kemudian, didalamnya juga ada ikan bandeng dan ikan udang membentuk hurus S.Lambang Kabupaten Sidoarjo itu juga memiliki panca warna yaitu biru laut, hijau, kuning, hitam dan abu-abu. Semua itu memiliki arti masing-masing, namun sayangnya jarang diketahui banyak orang, termasuk masyarakat Kabupaten Sidoarjo.Lambang Daerah Kabupaten Sidoarjo terdiri dari 5 bagian :1. Sebuah segilima beraturan yang sisi-sisinya berbentuk kurung kurawal melambangkan : Falsafah Pancasila yang juga mengandung arti bahwa rakyat Daerah Kabupaten Sidoarjo telah mentrapkan ajaran Pancasila dengan tertib dan pasti.2. Sebuah bintang bersudut lima melambangkan : KeTuahanan Yang Maha Esa yang menggambarkan kehidupan ber-KeTuhanan / beragama dari rakyat Daerah Kabupaten Sidoarjo.3. Setangkai padi, depalan belas butir dan sebatang tebu lima ruas dengan bentuk bulat melambangkan : Hasil bumi yang paling penting dalam daerah Kabupaten Sidoarjo.Sedangkan bentuk yang membulat dari padi dan tebu tersebut menggambarkan kebulatan tekad untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur. 18 (delapan belas) butir padi menunjukkan banyaknya Kecamatan dalam daerah Kabupaten Sidoarjo.4. Ikan bandeng dan ikan udang membentuk hurus S melambangkan : Hasil tambak dalam daerah Kabupaten Sidoarjo. Bentuk hurus S dari ikan bandeng dan ikan udang tersebut menunjukkan huruf pertama dari Sidoarjo.Arti Warna1. Warna Biru Laut pada lambang berarti air yang menggambarkan bahwa Daerah Kabupaten Sidoarjo yang terkenal dengan nama : DELTA BRANTAS dikelilingi air yaitu sungai dan laut.Warna biru laut yang terlepas dalam lingkaran padi dan tebu berarti air yang menggambarkan bahwa daerah Kabupaten Sidoarjo adalah daerah tambak yang banyak menghasilkan ikan bandeng dan ikan udang.2. Warna dasar Hijau menggambarkan kesuburan daerah Kabupaten Sidoarjo (Delta Brantas).3. Warna Kuning pada bintang, padi, tebu dan pita menggambarkan kesejahteraan rakyat Kabupaten Sidoarjo.4. Warna Hitam pada tebu, ikan bandeng, ikan udang dan tulisan Kabupaten Sidoarjo menggambarkan keteguhan Iman rakyat daerah Kabupaten Sidoarjo.5. Warna Abu-abu ikan bandeng dan ikan udang adalah warna pelengkap. DAFTAR BUPATI SIDOARJOBUPATI PERTAMA - TJOKRONEGORO I (1859 - 1863) Bupati pertama Sidokare adalah RT. Notopuro bergelar  TJOKRONEGORO I,  putra Bupati Surabaya dan bertempat tinggal di Pandean. Pada masa pemerintahan beliau masjid ABROR di Pekauman direnovasi. Berdasarkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 10 / 1859 tanggal 28 Mei 1859 Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 32 nama Kabupaten Sidokarie diganti dengan nama Kabupaten Sidho-Ardjo (sekarang Sidoarjo). Tahun 1862 Bupati Tjokronegoro I memindahkan rumah Kabupaten dari kampung Pandean ke kampung Pucang ( Wates ). Disini beliau mendirikan Masjid Jami’ ( Masjid AGUNG ) dan disebelah barat masjid dijadikan Pesarean Pendem ( Asri ). Ketika beliau wafat tahun 1863, jasad beliau disemayamkan dipesarean tersebut. BUPATI KEDUA - TJOKORONEGORO II (1863 - 1882) Sebagai penggantinya diangkatlah pada 28 Mei 1863 sebagai Bupati Sidoarjo ke dua dengan gelar Raden Adipati Ario TJOKRONEGORO II. Pada masa ini pembangunan Masjid Jami’ dan perbaikan pesarean Pendem dilanjutkan, ditambah dengan pembangunan kampung Mager Sari.  Bupati Tjokro Negoro II dimakamkan dipesarean Botoputih Surabaya. BUPATI KETIGA - RP. SUMODIREJO (1882) Pengganti sementara adalah RP Sumodirejo, pindahan dari Kabupaten Tulungagung namun 3 bulan kemudian ia wafat dan dimakamkan di pesarean Pendem. BUPATI KEEMPAT - RT. PANJI TJONDRO WINOTO (1882 - 1883) Selanjutnya pada 25 Juni 1882 sampai 1883 Bupati Sidoarjo dijabat oleh Raden Tumenggung Panji TJONDRO WINOTO setelah sebelumnya menjabat patih di Jombang.  Beliau kembali ditugaskan untuk mengisi kekosongan pemerintahan karena bupati Tjondronegoro wafat mulai tahun 1906 sampai 5 Februari 1907. BUPATI KELIMA - RA. ADIPATI TJONDRO NEGORO I (1883 - 1906) Pada tanggal 25 Juni 1883 Raden Adipati Tjondro Negoro I dilantik dan beliau wafat tahun 1906 dan dimakamkan di Pesarean belakang masjid Jami’. Pada tahun 1895 beliau menyempurnakan pembangunan Mesjid Jami’ dengan pemasangan marmer untuk memperindah masjid dan menetapkan pesarean bagi para Bupati dan keluarga, Penghulu dan segenap ahlul masjid berada dipekarangan masjid Jami’ BUPATI KEENAM - RA. ADIPATI ARIO TJONDRONEGORO II (1907 - 1924) Raden Adipati Ario Tjondronegoro II (nama aslinya RP Samiun) diangkat pada 5 Februari 1907. Setelah memerintah selama kurang lebih 18 tahun, beliau pensiun ( 1924 ). Setelah itu selama 2 tahun (1924-1926) Kabupaten Sidoarjo vakum (tidak ada Bupati, hanya ada asisten regent yang dijabat orang Belanda). Foto Pendopo Kab.Sidoarjo tahun 1900 masih berupa Galeri peristirahatan tamu milik Pabrik Gula “Boedoeran.” BUPATI KETUJUH - RTA. SUMODIPOETRO (1926 - 1932) Pada 2 Juni 1926 RTA Sumodipoetro diangkat menjadi Bupati Sidoarjo. Setelah menderita sakit berkepanjangan pada tahun 1932, beliau pensiun. Selama satu tahun jabatan Bupati kosong lagi. BUPATI KEDELAPAN - RT. SOEJADI (1933 - 1949) Pada 27 September 1933 Raden Tumenggung Soejadi yang semula Patih Madiun diangkat menjadi Bupati. Sejak 8 Maret 1942 hingga 15 Agustus 1945 Daerah Delta Brantas berada dibawah Kekuasaan Militer Jepang, sebagaimana halnya daerah-daerah di Indonesia lainnya. Selama masa pendudukan Jepang ini Bupati Sidoarjo tetap dijabat oleh Bupati Raden Tumenggung Soejadi Pada 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu, didaerah-daerah mulai dibentuk badan atau perkumpulan yang bersifat Nasional. Pada saat itu yang berkuasa didaerah Delta Berantas adalah Kaigun (tentara laut Jepang). Badan – badan atau perkumpulan yang bersifat Nasional mulai dibentuk dengan nama BKR dan PTKR. Pada permulaan Maret 1946 Belanda kembali ke daerah kita. Pada waktu menduduki Gedangan Pemerintah memandang perlu untuk memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Sidoarjo ke Porong. Foto udara pendopo Kab.Sidoarjo dan alun-alun tahun 1946 Pemerintahan Recomba (1946-1949). Tanggal 24 Desember 1946 Belanda menyerang Kota Sidoarjo. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dipindahkan lagi ke daerah Jombang . Sesudah Negara Jawa Timur dibentuk daerah Delta Berantas ini masuk daerah Negara Boneka tersebut. Mulai saat itu Sidoarjo berada dibawah pemerintahan Recomba yang berjalan hingga tahun 1949. Pada waktu itu Bupati Sidoarjo adalah: BUPATI KESEMBILAN DAN KE SEPULUH - TERPUSAT KE PEMERINTAH RI (1949) K. Ng. Soebakti Poespanoto;R. Suharto. Hingga tanggal 27 Desember 1949 Belanda menyerahkan kembali Pemerintahan kepada Pemerintah Republik Indonesia. BUPATI KESEBELAS - R. SURIADI KERTOSUPROJO (1950 - 1958)R Suryadi Kertosoeprojo dilantik tahun 1950 menjadi Bupati/Kepala Daerah di Kabupaten Sidoarjo. BUPATI KEDUABELAS - H.A. CHEDORI AMIR (1958 - 1959)H.A. Chudori Amir dilantik tahun  1958 BUPATI KETIGABELAS - R.H. SAMADIKOEN (1959 - 1964)R.H. Samadikoen dilantik tahun 1959 BUPATI KEEMPATBELAS - KOL. POL. H.R. SOEDARSONO (1965 - 1975)Kol.Pol. H.R. Soedharsono dilantik  tahun 1965 BUPATI KELIMABELAS - KOL. POL. H. SOEWANDI (1975 - 1985)Kol (Pol) Soewandi dilantik tahun 1975 BUPATI KEENAMBELAS - KOL. Art. SOEGONDO (1985 - 1990)Kol (Art) Soegondo dilantik 1985 BUPATI KETUJUHBELAS - KOL. Inf. EDHI SANYOTO (1990 - 1995)Kol (inf) Edhi Sanyoto dilantik tahun 1990 BUPATI KEDELAPANBELAS - KOL. Inf. H. SOEDJITO (1995 - 2000)Kol (Inf). H. Soedjito dilantik tahun 1995 BUPATI KESEMBILANBELAS - Drs. H. WIN HENDRARSO, M.Si (2000 - 2010)Drs. Win Hendrarso, M.Si dilantik tahun 2000 dan 2005. BUPATI KEDUAPULUH - H. SAIFUL ILAH, S.H., M.Hum (2010 - 2020)H. Saiful Ilah, SH, M.Hum dilantik pada tahun 2010 dan 2016. BUPATI KE DUA PULUH SATU - H. AHMAD MUHDLOR ALI, S. IP (2021 - 2024)BUPATI KE DUA PULUH DUA - H. SUBANDI, S.H., M.KN (2025 - 2030)Peraturan Daerah Kabupaten Sidoarjo Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sidoarjo Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Pembentukan Dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Sidoarjo

  • Potensi Potensi

    POTENSI PERTANIAN, PETERNAKAN, DAN PERKEBUNAN

    Luas lahan pertanian dari tahun ke tahun memang mengalami sedikit penurunan. Hal itu disebabkan adanyal alih fungsi lahan, seiring dengan perkembangan perumahan dan industri. Namun sektor pertanian tetap dipertahankan dan ditingkatkan produksinya, sesuai lahan yang tersedia dan perkembangan teknologi yang ada.

    POTENSI PERIKANAN DAN KELAUTAN


    Luas lahan perikanan mencapai 18,69% dari total luas wilayah Kabupaten Sidoarjo, salah satu produk unggulan Kota Delta ini adalah hasil olahan produk perikanannya. Sehingga Kabupaten Sidoarjo dijuluki Kota Kerupuk dan Petis Udang. Banyak potensi hasil perikanan dan kelautan yang dapat dimanfaatkan berbagai industri olahan makanan, termasuk budidaya dan olahan rumput laut.

    POTENSI INDUSTRI DAN PERDAGANGAN