Berita

1 Feb 2026

Peringati Ke 167 Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo Kembali Gelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim

Kominfo, Sidoarjo - Dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo yang ke-167 Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo kembali menggelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim di Pendopo Delta Wibawa, Minggu 01/02/2026.Tampak hadir diantara Jama`ah Sholawatan dan Doa Bersama Sekretaris Daerah Fenny Apridawati, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM Mochammad Hudori, P3AKB Kab. Sidoarjo Heni Kristiani, Kepala Disporapar Yudhi Irianto, Kabag Hukum Setda. Kab. Sidoarjo Komang Rai Darmawan, Kabag. Kesra Setda Kab.Sidoarjo Musfofi Al Mahalli, LKSA, Baznas serta pengasuh Yayasan Yatim-Piatu se Kabupaten SidoarjoDalam sambutannya Sekretaris menyampaikan permohonan lantunan doa bersama untuk kemlasahatan di Kabupaten Sidoarjo serta untuk Sidoarjo yang lebih baik. Dengan usia ke 167 Kabupaten Sidoarjo bukan usia yang muda  lagi untuk itu dengan usia yg cukup matang ini hendaknya masyarakat Sidoarjo untuk lebih kokoh serta kompak lagi dalam membangun Kabupaten Sidoarjo."Mari kita sepakati bersama untuk membangun Kabupaten Sidoarjo, untuk itu diperlukan sumberdaya manusia yang luar biasa, sehingga jangan sampai ditemukan anak-anak di Sidoarjo yang tidak bersekolah, atau anak yang dalam kondisi sakit tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan karena di Kabupaten Sidoarjo hanya dengan membawa KTP saja sudah bisa mendapatkan layanan kesehatan dengan gratis", ucapnyaIa pun menambahkan pada moment peringatan ini bukan sekadar memperingati sebuah momen bersejarah, melainkan untuk mengingatkan kepada semua tentang nilai kemanusiaan yang harus terus terpelihara, perlu bersama-sama untuk hijrah dari baik menjadi lebih baik, lebih baik menjadi sangat baik. Selain itu sebagai masyarakat yang berhubungan langsung dengan masyarakat hendaknya mau menegur atau mengingatkan orang yang berperilaku kurang bagus."Mari ingatkan jika mungkin ditemukan orang yang melakukan tindak perusakan fasilitas umum, membuang sampah tidak pada tempatnya maka saya mohon kepada masyarakat saling mengingatkan", tandasnyaKegiatan ini juga diisi dengan penyerahan secara simbolis bantuan dan sumbangan dari berbagai elemen masyarakat kepada anak-anak yatim piatu yang hadir  yang mana bukan hanya sekedar memberikan donasi, namun menjadi wujud nyata dari rasa syukur dan tanggung jawab sosial bersama terhadap generasi penerus.Dan pada acara yang berlangsung dengan penuh khidmat ini berakhir dengan penuh pengharapan akan setiap doa  yang dipanjatkan akan membawa berkah dan kemakmuran bagi Kabupaten Sidoarjo.

Selengkapnya
31 Jan 2026

Bupati Sidoarjo Resmikan Masjid Al Ikhlas Pabean Asri Sedati

Kominfo, Sidoarjo - Bupati Sidoarjo H. Subandi meresmikan Masjid Al Ikhlas yang berada di Perumahan Pabean Asri, Kecamatan Sedati, Sabtu (31/01/2025). Peresmian masjid tersebut disambut antusias oleh ratusan jamaah yang turut hadir dan memanjatkan doa bersama demi keberkahan Masjid Al Ikhlas Pabean Asri.Acara peresmian ini turut dihadiri jajaran Forkopimda Kabupaten Sidoarjo, para tokoh agama, serta warga masyarakat Pabean Asri. Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan kuatnya dukungan dan kebersamaan dalam pembangunan sarana ibadah di lingkungan masyarakat.Dalam sambutannya, Bupati Sidoarjo H. Subandi mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kemakmuran masjid serta mengisinya dengan berbagai kegiatan keagamaan yang bermanfaat. Ia menegaskan bahwa masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun juga sebagai sarana mempererat silaturahmi antarwarga.“Masjid ini diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan yang baik dan tempat silaturahmi yang membawa manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar H. SubandiLebih lanjut, H. Subandi menyampaikan bahwa berdirinya Masjid Al Ikhlas sejak peletakan batu pertama pada tahun 2021 hingga dapat diresmikan saat ini merupakan hasil dari kerja sama yang baik antara takmir masjid dan masyarakat yang terlibat secara aktif."Allhamdulillah, apa yang kami awali sejak 2021 kini menjadi kenyataan. Masjid ini adalah milik seluruh warga Pabean Asri tanpa terkecuali," ujarnya.Di akhir sambutannya, Bupati Sidoarjo berharap agar Masjid Al Ikhlas Pabean Asri dapat terus dijaga dan dirawat bersama, sehingga manfaatnya dapat dirasakan tidak hanya oleh masyarakat saat ini, tetapi juga oleh generasi yang akan datang. (Son)

Selengkapnya
30 Jan 2026

Peringatan Hari Jadi ke-167 Kabupaten Sidoarjo Jadi Momentum Refleksi dan Penguatan Kebersamaan

KOMINFO, Sidoarjo — Tahun 2026 ini Kabupaten Sidoarjo sudah menapaki usianya yang ke-167. 31 Januari 1859 menjadi tonggak perjalanan panjang dalam membangun daerah. Komitmen Kabupaten Sidoarjo untuk bertransformasi menjadi daerah yang maju dan berkembang terus diperlihatkan. Usia lebih dari satu setengah abad tersebut menjadi bukti kerja keras, kebersamaan, serta kuatnya semangat gotong royong masyarakat Sidoarjo dalam mewujudkan pembangunan daerah. Kamis malam, (30/1), sebagai ucapan rasa syukur digelar tasyakuran Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo/Harjasda ke 167 tahun 2025 di Pendopo Delta Wibawa. Tasyakuran dengan suasana penuh syukur itu dihadiri Forkopimda Sidoarjo. Antara lain Bupati Sidoarjo H. Subandi, Kapolresta Sidoarjo Kombespol Christian Tobing serta Dandim 0816/Sidoarjo Letkol Czi Shobirin Setio Utomo dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten  Sidoarjo Warih Andono. Hadir pula Danpasmar 2 Mayor Jenderal TNI (Mar) Dr. Oni Junianto, Kas Sub Kogartap 0816/Sda Mayor Laut (PM) Aan Hendrawan serta Kepala BNNK Sidoarjo Kombespol Gatot Soegeng Soesanto. Sekda Sidoarjo Fenny Apridawati dan seluruh pejabat Sidoarjo juga hadir dalam kesempatan tersebut. Selain itu hadir pula para kyai Sidoarjo. Diantaranya Ketua MUI Kabupaten Sidoarjo KH. DR. Ahmad Muhammad, KH. Abdul Aziz Munif, KH. Rofiq Siroj serta KH. Abdi Manaf dan Habib Najib Al Hadad. Para kyai Sidoarjo tersebut saling bergantian mendoakan untuk kebaikan Kabupaten Sidoarjo.Dalam sambutannya Bupati Sidoarjo H. Subandi menyampaikan bahwa Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo tidak hanya dimaknai sebagai agenda seremoni tahunan saja. Namun juga sebagai momentum refleksi atas capaian pembangunan yang telah diraih. Selain itu, peringatan tersebut menjadi ajang untuk menata langkah ke depan dengan visi pembangunan yang lebih jelas dan terarah. “Sudah saatnya kita saling bergandeng tangan, bahu-membahu, dan bekerja cerdas demi mewujudkan Kabupaten Sidoarjo yang lebih baik, lebih maju, dan lebih sejahtera,” ucapnya. Bupati H. Subandi juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga harmonisasi kehidupan sosial dengan saling menghargai dan memperkuat persaudaraan. Menurutnya persatuan dan kesatuan bangsa merupakan fondasi utama agar masyarakat terhindar dari politik adu domba yang dapat menghambat pembangunan. Ia juga meminta untuk terus menumbuhkan nilai-nilai gotong royong, guyub rukun, dan kebersamaan di tengah masyarakat. "Dengan kebersamaan, saya yakin Sidoarjo akan lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman,"ujarnya. Pada kesempatan tersebut Bupati H. Subandi mengajak seluruh undangan yang hadir untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Kabupaten Sidoarjo senantiasa dijaga dari segala macam bahaya dan bencana. Ia juga mengajak semuanya untuk berdoa agar Kabupaten Sidoarjo selalu dilimpahi keberkahan dalam setiap langkah pembangunan. Ia juga berharap Kabupaten Sidoarjo dapat terus berkembang menjadi daerah yang lebih baik, harmonis, dan sejahtera menuju kabupaten yang baldatun thayyibatun warobbun ghofur. "Saya ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam perjalanan panjang pembangunan Kabupaten Sidoarjo, mari kita terus melangkah bersama demi Sidoarjo yang semakin maju dan sejahtera,"ucapnya. Git

Selengkapnya
30 Jan 2026

Jejak Majapahit di Sidoarjo: Wilayah Penyangga Kekuasaan yang Terlupakan

KOMINFO, Sidoarjo - Ketika sejarah Majapahit dibicarakan, ingatan publik hampir selalu tertuju pada Trowulan—bekas ibu kota kerajaan besar itu. Candi-candi bata merah, kolam Segaran, dan kisah raja-raja agung seolah mengunci pusat perhatian di satu titik. Namun di balik kemegahan itu, ada wilayah lain yang diam-diam menopang denyut kehidupan Majapahit: Sidoarjo.Pada abad ke-14, wilayah yang kini bernama Sidoarjo bukan sekadar daerah pinggiran. Letaknya yang strategis di pesisir timur Jawa, dekat muara sungai-sungai besar seperti Brantas, menjadikannya simpul penting antara pedalaman agraris dan jalur perdagangan laut. Dalam konteks kerajaan maritim-agraris seperti Majapahit, posisi semacam ini bernilai vital.Wilayah Penyangga: Logistik, Pangan, dan SpiritualitasMajapahit bukan hanya kerajaan politik, melainkan juga sistem ekonomi dan budaya yang kompleks. Untuk menopang pusat kekuasaan di pedalaman, dibutuhkan daerah penyangga yang mampu menyediakan kebutuhan dasar kerajaan: pangan, hasil tambak, hingga jalur distribusi.Sidoarjo memenuhi semua fungsi itu. Kawasan ini sejak lama dikenal subur dan kaya sumber daya air. Sistem pertanian sawah dan tambak berkembang berdampingan, memungkinkan produksi beras, ikan, dan hasil pesisir secara berkelanjutan. Inilah fondasi ekonomi yang menopang kehidupan istana dan kota-kota kerajaan.Selain fungsi logistik, wilayah penyangga juga memiliki peran spiritual. Dalam kosmologi Hindu–Buddha Jawa, keseimbangan antara pusat dan pinggiran sangat penting. Daerah-daerah di luar ibu kota menjadi ruang ritual, tempat pendharmaan, dan simbol penjaga harmoni alam.Candi Pari: Penanda Sejarah yang TegasJejak peran strategis Sidoarjo pada masa Majapahit paling jelas terlihat dari keberadaan Candi Pari. Candi ini berdiri di Desa Candipari, Kecamatan Porong, dan bertarikh tahun 1371 M—masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.Dibangun dari bata merah khas Majapahit, Candi Pari menunjukkan gaya arsitektur Hindu dengan pengaruh kuat India namun telah beradaptasi dengan tradisi lokal Jawa Timur. Candi ini diyakini sebagai tempat pemujaan atau pendharmaan, bukan sekadar bangunan ibadah biasa.Keberadaan Candi Pari menegaskan satu hal penting: Sidoarjo bukan wilayah kosong yang kebetulan tersentuh pengaruh Majapahit, melainkan bagian integral dari sistem kekuasaan kerajaan. Tidak sembarang daerah dibangun candi resmi pada masa itu—hanya wilayah yang memiliki nilai politik, spiritual, dan ekonomi.Candi Sumur dan Pamotan: Fragmen Sejarah yang TercecerSelain Candi Pari, Sidoarjo juga menyimpan situs lain seperti Candi Sumur dan Candi Pamotan. Meski tidak seutuh dan sepopuler Candi Pari, keberadaan kedua situs ini memperkuat gambaran bahwa wilayah Sidoarjo merupakan lanskap religius pada masa Hindu–Buddha.Candi Sumur, dengan struktur yang sederhana dan terkait dengan sumber air, menunjukkan pentingnya unsur air dalam ritual keagamaan Majapahit. Air tidak hanya dimaknai sebagai kebutuhan hidup, tetapi juga sarana penyucian dan simbol kesuburan.Sementara itu, Candi Pamotan—meski kini tinggal jejak—menjadi penanda bahwa aktivitas keagamaan dan pemukiman kuno tersebar luas di wilayah ini. Fragmen-fragmen bata dan temuan arkeologis mengisyaratkan adanya jaringan situs yang lebih besar, sebagian hilang oleh waktu dan perubahan lanskap.Sidoarjo dalam Jaringan Perdagangan MajapahitLetak Sidoarjo yang dekat dengan pesisir menjadikannya penghubung antara jalur sungai dan laut. Dari wilayah ini, hasil bumi dan tambak dapat dialirkan ke pelabuhan-pelabuhan pesisir, lalu diperdagangkan ke wilayah Nusantara lain.Majapahit dikenal sebagai kerajaan dengan jaringan perdagangan luas, dan Sidoarjo berperan sebagai salah satu simpul distribusi itu. Perahu-perahu kecil menyusuri sungai, membawa hasil pertanian dan perikanan dari desa-desa penyangga menuju pusat perdagangan.Dengan demikian, Sidoarjo bukan hanya penopang pasif, tetapi bagian aktif dari ekonomi maritim Majapahit.Jejak yang Tertutup ZamanSayangnya, peran penting Sidoarjo dalam sejarah Majapahit sering luput dari narasi besar. Industrialisasi, urbanisasi, dan perubahan alam—termasuk bencana modern—telah menutupi banyak jejak masa lalu.Namun candi-candi yang masih berdiri dan situs-situs yang tersisa menjadi pengingat bahwa wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai ruang strategis kerajaan besar. Membaca Sidoarjo hanya sebagai kota industri modern berarti mengabaikan lapisan sejarah yang membentuk identitasnya.Membaca Ulang SidoarjoJejak Majapahit di Sidoarjo mengajarkan satu hal penting: sejarah tidak hanya ditulis di pusat kekuasaan, tetapi juga di wilayah penyangga yang bekerja dalam senyap. Tanpa daerah seperti Sidoarjo, kejayaan Majapahit tak akan berdiri kokoh.Hari ini, ketika Sidoarjo terus tumbuh dan berubah, jejak-jejak itu layak dibaca ulang—bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai fondasi identitas wilayah yang pernah menjadi bagian penting dari salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. (irw/Diskominfo)Referensi• Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Balai Pustaka• Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur• Data dan kajian arkeologi Candi Pari, Candi Sumur, dan Candi Pamotan• Prasasti Majapahit abad ke-14 (era Hayam Wuruk)

Selengkapnya
29 Jan 2026

Candi Pamotan: Jejak Majapahit yang Tersembunyi di Tengah Kampung Sidoarjo

Sidoarjo, 29 Januari 2026Antara Sejarah, Identitas Lokal, dan Potensi Wisata BudayaDi tengah hiruk-pikuk pemukiman Desa Pamotan, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, berdiri dua reruntuhan batu bata merah yang tampak sederhana, namun menyimpan jejak penting dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Situs ini dikenal sebagai Candi Pamotan I dan Candi Pamotan II — bagian dari sejarah awal peninggalan peradaban Hindu-Buddha di Jawa Timur yang kerap terlupakan. Ket foto: Candi Pamotan IJejak Arkeologi: Apa Itu Candi Pamotan?Candi Pamotan bukan monumen besar seperti Borobudur atau Prambanan, melainkan dua struktur candi kecil yang kini sebagian besar telah runtuh. Candi Pamotan I memiliki ukuran sekitar 4,8 × 4,8 meter dengan sisa dinding dan fondasi batu bata merah, sementara Candi Pamotan II sedikit lebih kecil dan dalam kondisi lebih rusak, bahkan terdapat arca tanpa kepala di atasnya. Dua bangunan ini hanya menyisakan tumpukan batu bata merah, kolam-kolam yang meninggi saat musim hujan, dan dikelilingi vegetasi serta alang-alang — pemandangan yang mungkin tampak sederhana, bahkan biasa, tapi justru itulah yang menyimpan cerita panjang masa lalu. Ket. Foto: Candi Pamotan IIKapan dan Siapa yang Membangun Candi Pamotan?Ini bagian sejarah yang paling menarik sekaligus paling tidak pasti:Karena tidak ditemukan prasasti, naskah, atau dokumen sejarah tertulis tentang Candi Pamotan, para peneliti sulit sekali menetapkan tahun pembangunan atau nama raja yang memerintahkan pembangunannya. Namun, dari gaya arsitektur yang tersisa — terutama penggunaan batu bata merah yang menjadi ciri khas candi-candi di Jawa Timur — para ahli sejarah menyimpulkan bahwa Candi Pamotan berasal dari era Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga ke-15). Gaya bata merah juga ditemui di banyak situs lain di Sidoarjo dan sekitarnya, seperti Candi Pari dan Candi Sumur, yang merupakan bagian dari kompleks candi Majapahit di Porong. Kerajaan Majapahit sendiri merupakan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. Didirikan oleh Raden Wijaya pada akhir abad ke-13, kerajaan ini mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Meskipun Candi Pamotan tidak dikaitkan langsung dengan nama raja tertentu, keberadaannya kental dengan periode sejarah ini. Ket. Foto: Plakat Masuk Candi Pamotan Fungsi dan Makna Sosial BudayaBerbeda dengan candi besar yang jelas berfungsi sebagai tempat ibadah atau pusat ritual keagamaan, interpretasi tentang fungsi Candi Pamotan berasal dari cerita lisan dan kajian lokal:Tempat Penampungan atau Transaksi PadiMenurut warga sekitar, Pamotan dulunya merupakan tempat strategis bagi agraris di wilayah tersebut untuk menyimpan padi atau hasil bumi sebelum dikirim ke pusat kekuasaan Majapahit. Sepanjang sejarah Jawa kuno, wilayah Porong dikenal sebagai lahan subur penghasil padi. Istilah “Pamotan” sendiri konon berasal dari kata pamuatan — yakni kegiatan memuat hasil panen. Meski ini belum terbukti secara ilmiah atau tercatat dalam dokumen sejarah klasik, cerita ini tetap menjadi bagian dari identitas lokal yang hidup dari generasi ke generasi. Kondisi Saat Ini dan Tantangan PelestarianDua candi dari Pamotan kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan:Banyak bagian tubuh bangunan yang sudah runtuhStruktur candi tertutup lumut, sering terendam air hujanTidak ada atap atau ukiran yang masih berdiri utuhSitus tersembunyi di area kampung yang belum memiliki akses wisata formal Kondisi ini membuat banyak orang yang tidak menyadari keberadaan Candi Pamotan, bahkan warga lokal pun sering mengira situs itu hanya sekadar “tumpukan bata tua”. Namun sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah telah menetapkan Candi Pamotan sebagai struktur cagar budaya tingkat kabupaten. Ada upaya pelestarian dan peningkatan fungsi edukatif melalui kolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan, sekolah-sekolah, serta komunitas sejarah. Ket. Foto: Candi Pamotan IICandi Pamotan dalam Peta Warisan MajapahitMeski kecil, Candi Pamotan tetap bagian dari jaringan peninggalan Majapahit yang tersebar di Kabupaten Sidoarjo. Menurut catatan sumber sejarah budaya, sejumlah candi di wilayah Porong — termasuk Candi Pari, Candi Sumur, serta dua Candi Pamotan — menegaskan betapa daerah ini pernah menjadi pusat kegiatan monumental pada masa lalu. Peluang dan Arah Pengembangan Wisata BudayaBukan hanya sekadar batu bata tua, Candi Pamotan punya potensi menjadi destinasi wisata sejarah dan edukatif:Menjadi saksi akulturasi budaya Hindu-Buddha NusantaraTempat pembelajaran tentang teknik bangunan kunoDapat dikembangkan sebagai bagian dari rute wisata sejarah Majapahit di SidoarjoBisa menjadi tempat pelayanan edukasi sekolah dan tur sejarah masyarakat Dengan pendekatan yang mencakup pelestarian, penataan kawasan, pelibatan masyarakat lokal, serta edukasi digital, Candi Pamotan dapat menjadi ikon kekayaan budaya yang hidup berdampingan dengan perkembangan zaman tanpa mengorbankan kenyamanan warga setempat. Kesimpulan: Jejak Masa Lalu yang Belum Selesai DiceritakanCandi Pamotan adalah contoh nyata bagaimana sebuah situs kecil pun bisa menjadi gerbang masuk ke masa lalu besar peradaban Indonesia. Walau tidak tersohor, kondisinya yang sederhana justru membuat situs ini unik secara arkeologis dan menarik secara historis.Tidak ada informasi pasti tentang siapa raja yang membangunnya atau tahun pembangunannya, tetapi ciri arsitektur bata merah jelas mengaitkannya dengan era Kerajaan Majapahit, sebuah periode sejarah yang menjadi simbol kejayaan Nusantara. (irw/Diskominfo)Sumber Data dan Rujukan UtamaKompas: Sejarah Candi Pamotan di Sidoarjo — ciri arsitektur Majapahit dan kesulitan penentuan sejarah pasti. Dinas Pariwisata Sidoarjo (2025) — cagar budaya dan pengembangan wisata. Perintis.co.id — deskripsi fisik dua candi dan keadaan situs. IndoZone Feature — catatan ukuran, kondisi, dan sejarah penemuan objek. Kompas: daftar candi Majapahit termasuk Pamotan.

Selengkapnya
28 Jan 2026

Bupati Sidoarjo Tegaskan Percepatan Pendirian KDKMP

KOMINFOSidoarjo - Bupati Sidoarjo H. Subandi menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk mempercepat pelaksanaan pendirian Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di seluruh desa dan kelurahan. Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi bersama pimpinan DPRD, Forkopimda, camat, dan kepala desa yang digelar di ruang OPS Room Setda Sidoarjo, Rabu (28/1/2026).Subandi menyampaikan bahwa percepatan KDKMP merupakan bentuk atensi pemerintah daerah dalam mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan, keberhasilan pemerintah daerah tidak lepas dari sinergi semua pihak, mulai dari DPRD, camat, hingga kepala desa.“Kita sebagai pimpinan daerah mempertegas kembali target KDKMP ini. Program ini harus segera dimaksimalkan, terutama karena menjadi bagian dari program Bapak Presiden,” tegas Subandi.Subandi secara khusus meminta para camat untuk aktif melakukan pendampingan kepada desa dan kelurahan. Ia menekankan pentingnya pemetaan persoalan di lapangan, terutama terkait desa yang belum memiliki anggaran Bantuan Keuangan (BK) atau memiliki BK dengan nilai terbatas.“Saya minta Pak Camat betul-betul menjalankan tugas pendampingan. Data yang sudah masuk portal harus terus di-update minimal tiga hari sekali. Sampaikan apa kendalanya, kenapa bisa jalan atau tidak bisa jalan,” ujarnya.Dalam pemetaan sementara, terdapat sekitar 47 lokasi KDKMP di Kabupaten Sidoarjo yang masih terkendala pengurukan. Dari jumlah tersebut, 27 lokasi belum memiliki dukungan yang memadai, sementara 20 lokasi lainnya perlu pemetaan lebih lanjut terkait kondisi lahannya.Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Pemkab Sidoarjo menyiapkan solusi alternatif, termasuk pemanfaatan lahan yang memungkinkan untuk digali. Pemerintah daerah juga menyiapkan alat berat dan armada pengangkut.“Kita punya sembilan backhoe. Truk dari pemda juga kita siapkan. Desa nanti tinggal membantu pelaksanaan di lapangan agar pengurukan bisa berjalan,” jelasnya.Subandi juga membuka peluang agar hasil galian dapat dimanfaatkan oleh desa, misalnya untuk kolam ternak lele atau kebutuhan lainnya, sehingga tetap memberikan nilai tambah bagi masyarakat.Selain KDKMP, Subandi turut menyoroti persoalan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang masih menjadi pekerjaan rumah serius. Saat ini, Kabupaten Sidoarjo masih kekurangan LP2B sekitar 4.000, yang berdampak pada terhambatnya penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan iklim investasi.“Kalau RDTR terhambat, investasi juga ikut terhambat. Padahal investor butuh kepastian hukum. Minggu depan saya akan ke Jakarta untuk mengawal langsung persoalan ini,” ungkapnya.Ia berharap, dengan selesainya penetapan LP2B dan RDTR, arah peruntukan wilayah di desa dan kelurahan menjadi jelas sehingga tidak lagi menghambat pembangunan dan investasi di Sidoarjo.Menutup arahannya, Subandi mengajak seluruh camat dan kepala desa untuk bekerja bersama dan saling mendukung demi menyukseskan visi dan misi Presiden serta memastikan dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.“Mari kita kerja bareng-bareng. Ini program pusat dan menjadi atensi kita bersama. Kalau kita solid, saya yakin kesejahteraan masyarakat Sidoarjo bisa benar-benar terwujud,” pungkasnya. (Mar)

Selengkapnya
27 Jan 2026

Bupati Serahkan Mobil Pickup Beserta Unit Stamper Untuk Percepat Penanganan Jalan Rusak

KOMINFO, SIDOARJO - Bupati Sidoarjo H. Subandi menyerahkan satu mobil pickup beserta satu unit stamper atau alat pemadat aspal kepada masing-masing kecamatan. Penyerahan dilakukan secara simbolis kepada tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Sidoarjo, Kecamatan Candi, Kecamatan Gedangan. Penyerahan dilakukan di Pendopo Delta Wibawa kepada Camat Sidoarjo M. Aziz Muslim, Camat Candi Yuni Rismawati dan Camat Gedangan Asmara Hadi, Selasa pagi, (27/1/2026).  Penyerahan mobil pickup beserta unit stamper digunakan untuk mendukung program anggaran Pagu Indikatif Wilayah Kecamatan (PIWK)  yang difokuskan perbaikan jalan. Program PIWK tersebut memberikan kewenangan setiap kecamatan untuk melakukan sendiri perbaikan jalan rusak diwilayahnya. Dengan program PIWK tersebut diharapkan penanganan jalan rusak dapat segera dilakukan.Bupati Sidoarjo H. Subandi mengatakan mobil pickup beserta satu unit stamper akan dipakai masing-masing kecamatan untuk perbaikan infrasturktur jalan diwilayahnya. Jalan berlubang dapat ditangani langsung oleh setiap kecamatan. Tidak menunggu Dinas PU Bina Marga dan SDA Sidoarjo yang selama ini menjadi tanggung jawabnya.“Ini tadi sudah saya sampaikan kepada pak camat semuanya, dengan PIWK ini sebelum lebaran tidak ada jalan berlubang di Sidoarjo,”ucap bupati usai penyerahan.Namun sebelumnya Pemkab Sidoarjo akan memetakan kewenangan jalan dalam perbaikannya.  Perbaikan jalan mana saja yang menjadi kewenangan Dinas PU Bina Marga dan SDA Sidoarjo dan kecamatan.“Nanti kita petakan, mana urusan PU, kalau PU kita pakai swakelola, nanti kecamatan semuanya pakai PIWK,”ujarnya.Bupati H. Subandi mengatakan pendampingan akan dilakukan Dinas PU Bina Marga dan SDA Sidoarjo. Pihak kecamatan dan pemerintah desa diharapkan saling berkoordinasi dalam penanganan perbaikan jalan. Dengan begitu percepatan perbaikan jalan rusak yang ada di desa segera tertangani. “Nanti kecamatan berkoordinasi dengan desa untuk percepatan penanganan jalan-jalan rusak yang ada di desa, jadi nanti komunikasinya desa dengan camat, kalau camat dan desa tidak mampu kita limpahkan ke PU,”pungkasnya. Git

Selengkapnya
27 Jan 2026

Bupati Subandi : Sanksi Tegas Bagi OPD Tak Capai Target

KOMINFO, Sidoarjo – Bupati Sidoarjo Subandi menegaskan akan menerapkan sanksi hingga mutasi pejabat bagi organisasi perangkat daerah (OPD) yang tidak mampu mencapai target kinerja, langkah ini menyusul tren penurunan nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Kabupaten Sidoarjo dalam beberapa tahun terakhir.Penegasan tersebut disampaikan Bupati Subandi dalam kegiatan Penyerahan Perjanjian Kinerja Kepala Perangkat Daerah Tahun 2026 dan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) PPPK Paruh Waktu di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo yang digelar pada Selasa (27/1/2026) di Pendopo Delta Wibawa.Subandi menyampaikan bahwa SAKIP merupakan instrumen utama dalam mengukur keberhasilan maupun kegagalan kinerja perangkat daerah, camat, hingga perangkat desa. Menurutnya, SAKIP menjadi bagian penting dalam siklus sistem pemerintahan yang mencerminkan komitmen pimpinan dan seluruh jajaran terhadap pencapaian target pembangunan daerah.“Keberhasilan atau kegagalan kinerja sangat ditentukan oleh keseriusan perangkat daerah dan camat dalam menjalankan target yang telah ditetapkan,” tegasnya.Berdasarkan data evaluasi, nilai SAKIP Kabupaten Sidoarjo menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2019 nilai SAKIP berada di angka 77,26, meningkat menjadi 78,38 pada 2020, kemudian 78,97 pada 2021, dan relatif stagnan di angka 78,96 pada 2022. Namun pada 2023 turun menjadi 77,50, kembali menurun di 2024 sebesar 75,64, hingga mencapai 71,16 pada Triwulan II Tahun 2025.Penurunan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya empat komponen utama SAKIP, yakni perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, pelaporan kinerja, dan evaluasi internal. Selain itu, komitmen terhadap budaya kinerja dan orientasi hasil dinilai masih rendah, strategi pencapaian sasaran cenderung bersifat rutin dan kurang inovatif, serta kompetensi tenaga perencana dan admin SAKIP yang masih perlu ditingkatkan.Menanggapi kondisi tersebut, Subandi akan melakukan evaluasi kinerja OPD setiap enam bulan. Apabila dalam kurun waktu tersebut tidak terdapat peningkatan kinerja, maka akan dilakukan mutasi atau pergantian pejabat.“Enam bulan tidak baik, kita ganti. Ini bentuk keseriusan agar kinerja benar-benar berdampak langsung bagi masyarakat Sidoarjo,” ujarnya.Ia menambahkan, penggunaan anggaran harus dilakukan secara optimal dan tepat sasaran sebagai langkah awal dalam menyiapkan strategi pembangunan yang terarah. Menurutnya, kinerja yang dijalankan dengan ikhlas, aman, nyaman, dan kondusif akan berbanding lurus dengan peningkatan nilai SAKIP serta kualitas pelayanan publik.Subandi juga mengingatkan pentingnya harmonisasi dan kerja sama internal antar OPD. Ia menyampaikan bahwa pimpinan daerah terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik, namun tanggung jawab teknis tetap berada pada masing-masing OPD.“Ayo berlomba-lomba membenahi OPD. Pelayanan harus semakin baik, karena kinerja kita adalah untuk melayani Sidoarjo,” katanya.Untuk mendukung perbaikan kinerja, staf ahli Bupati akan dilibatkan secara aktif dalam memberikan kajian dan pendampingan. Langkah ini termasuk mengidentifikasi penyebab rendahnya nilai SAKIP serta menyusun rekomendasi perbaikan yang konkret.Dari data evaluasi, sejumlah OPD juga mendapat perhatian khusus, di antaranya Dinas Perhubungan terkait pengelolaan parkir dan sektor pendukung lainnya, serta Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang diminta mengoptimalkan pemanfaatan dashboard retribusi agar seluruh pendapatan daerah dapat dipantau secara real time.Selain itu, Subandi juga memberikan atensi pada penegakan ketertiban umum. Satpol PP diminta lebih tegas dan berani dalam menjalankan tugas, termasuk penertiban pedagang kaki lima (PKL), khususnya pada kegiatan Car Free Day (CFD) mendatang. Ia menegaskan bahwa pada pukul 09.00 WIB PKL sudah harus mulai dibubarkan dan maksimal pukul 10.00 WIB area harus bersih, termasuk penertiban PKL di ruas-ruas jalan.“Internal harus saling bekerja sama dengan baik dan menciptakan suasana kerja yang kondusif. Kita ini sedang bersama-sama membangun Sidoarjo lebih baik lagi,” ujarnya. (Dew)

Selengkapnya
27 Jan 2026

Progres Rumah Pompa Kedungpeluk 70 Persen, Bupati Sidoarjo Optimistis Rampung 14 Februari

KOMINFO, Sidoarjo – Bupati Sidoarjo, H. Subandi, melakukan peninjauan langsung bersama jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga (PUBMSDA) Kabupaten Sidoarjo, serta unsur Forkopimka Candi ke lokasi pembangunan rumah pompa Kedungpeluk yang diproyeksikan sebagai salah satu upaya strategis dalam mengatasi banjir di kawasan Tanggulangin dan Candi. Berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) tersebut, pembangunan rumah pompa kini telah menunjukkan kemajuan signifikan dengan capaian progres sekitar 70 persen.Subandi mengatakan pembangunan rumah pompa ini menjadi kunci penting dalam mengurai banjir, khususnya dengan mengalirkan debit air ke Sungai Mbah Gepuk.“Alhamdulillah, tujuan kita membangun Dam Kedungpeluk ini adalah untuk mengurai banjir yang ada di Tanggulangin dan Candi. Mudah-mudahan kalau nanti sudah selesai, tensi banjir bisa kita buang ke Sungai Mbah Gepuk,” ujar Subandi, usai sidak rumah pompa Kedungpeluk, Selasa (27/1/2026).Subandi mengakui, sebelumnya sempat ada evaluasi keras terhadap pelaksanaan proyek karena progres dinilai berjalan lambat. Namun, hasil sidak kali ini menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.“Hari ini progresnya sudah bagus, sudah 70 persen. Pekerjaan yang paling sulit itu justru sudah selesai. Sekarang tinggal pengerjaan bagian atas dan itu tidak mengganggu konstruksi bawah,” jelasnya.Ia menegaskan bahwa target penyelesaian proyek tetap sesuai jadwal. Subandi berharap, seluruh pekerjaan dapat rampung pada 14 Februari 2026. Ia juga meminta jajaran Dinas PUBMSDA segera menuntaskan pembenahan tanah yang ada di beberapa titik.“Saya minta tanggal 14 Februari ini sudah selesai semua. Nanti besi-besinya ditarik agar dam bisa langsung difungsikan,” tegasnya.Selain pembangunan rumah pompa, Pemkab Sidoarjo juga akan melakukan normalisasi sungai hingga ke muara. Langkah ini dinilai penting agar aliran air benar-benar lancar dan pompa bisa bekerja lebih fleksibel saat curah hujan tinggi.Subandi berharap cuaca dalam beberapa pekan ke depan bersahabat sehingga proses pengerjaan tidak terkendala hujan deras. Ia juga mengapresiasi para pekerja di lapangan yang terus berupaya menyelesaikan proyek sesuai target.“Mudah-mudahan dengan dibangunnya dam ini, banjir di Tanggulangin dan Candi bisa terurai. Itu harapan kita bersama,” pungkasnya. (Mar)

Selengkapnya
27 Jan 2026

Wakil Bupati Sidoarjo Ajak Ribuan Warga Meriahkan Hari Jadi Ke-167 Dengan Makan Bersama Di Monumen Jayandaru

Kominfo, Sidoarjo - Ribuan warga memadati Pelataran Monumen Jayandaru pada Selasa malam (27/1/2025) untuk mengikuti acara makan bersama yang digelar Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-167. Suasana kekeluargaan dan kebersamaan mewarnai perayaan yang berlangsung meriah hingga malam hari.Acara yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda Sidoarjo, di antaranya Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo Abdillah Nasih, Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol. Christian Tobing, serta Dandim 0816 Sidoarjo Letkol Czi Shobirin Setio Utomo. Tampak hadir pula jajaran kepala OPD yang turut berbaur dengan masyarakat.Dalam sambutannya, Wakil Bupati Hj. Mimik Idayana menyampaikan apresiasi yang mendalam atas antusiasme warga yang hadir. Menurutnya, acara makan bersama ini bukan sekadar seremoni, melainkan wadah untuk mempererat tali silaturahmi antara pemerintah dan rakyat."Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang hadir malam ini. Acara ini sebenarnya merupakan pemenuhan atas aspirasi masyarakat. Kami ingin di momentum Harjasda ke-167 ini, kita semua bisa berkumpul dan merasakan kebahagiaan bersama," ujar Hj. Mimik Idayana.Beliau juga memanjatkan doa agar di usia yang semakin matang, Kabupaten Sidoarjo senantiasa dilimpahi keberkahan. "Semoga dengan adanya doa dan kebersamaan ini, Sidoarjo menjadi lebih baik, lebih maju, dan masyarakatnya semakin sejahtera ke depannya," tambahnya.Sajian makan gratis dan hiburan yang disediakan sukses menghadirkan senyum di wajah para warga. Rahmad, salah satu warga Buduran yang ikut mengantre, mengaku sangat senang dengan acara yang diadakan pemerintah daerah."Sangat senang ya, selain bisa makan gratis bareng keluarga, ada hiburannya juga. Terima kasih Bu Wabup, kalau bisa acara seperti ini diadakan rutin setiap tahun," ungkap Rahmad dengan sumringah.Perayaan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-167 yang jatuh pada 31 Januari ini sengaja dimulai lebih awal dengan kegiatan-kegiatan yang melibatkan partisipasi langsung masyarakat, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk membangun kedekatan dengan seluruh lapisan warga. (Son)

Selengkapnya

Pengumuman

Agenda / Kegiatan

Visitors : 967304