KOMINFO, Sidoarjo - (Rabu/11 Maret 2026) Di ujung timur Kabupaten Sidoarjo, hamparan tambak berpadu dengan semilir angin laut. Di sanalah Tambak Cemandi tumbuh sebagai desa pesisir yang selama puluhan tahun dikenal sebagai wilayah perikanan. Namun kini, denyut kehidupannya tidak lagi hanya bertumpu pada hasil tambak. Perlahan, desa ini menjelma menjadi ruang tumbuh ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Tambak Cemandi bukan sekadar ruang produksi ikan dan udang. Ia adalah simpul kehidupan masyarakat pesisir yang menggabungkan kerja tradisional dengan kreativitas baru: pengolahan hasil laut, kuliner khas, hingga wisata berbasis aktivitas tambak.
Dari Tambak ke Dapur Kreatif
Setiap pagi, hasil panen bandeng dan udang mengalir ke rumah-rumah produksi kecil di desa. Di dapur-dapur sederhana itu, ikan tidak lagi dijual mentah semata. Ia diolah menjadi aneka produk: bandeng asap, otak-otak, petis ikan, hingga bandeng presto tanpa duri.
Abdul, nelayan Tambak Cemandi, mengatakan perubahan ini membuat penghasilan lebih stabil.
“Kalau dulu hasil tambak langsung dijual ke pengepul, harganya sering turun. Sekarang sebagian kami olah sendiri jadi makanan. Ada juga yang khusus usaha cabut duri bandeng supaya mudah dimakan,” ujar Abdul.
Transformasi ini menandai pergeseran pola ekonomi warga: dari sekadar penjual bahan mentah menjadi pengolah produk bernilai tambah.
Perempuan dan Anak Muda di Garis Depan
Motor penggerak ekonomi kreatif di Tambak Cemandi banyak digerakkan oleh keluarga nelayan. Para istri mengolah hasil tambak di rumah, sementara anak-anak muda membantu pemasaran lewat media sosial dan layanan pesan daring.
Abdul menuturkan, pemasaran kini tidak hanya mengandalkan pasar tradisional.
“Sekarang pembeli banyak pesan lewat ponsel. Bandeng tanpa duri dan bandeng asap kami kirim ke luar desa. Anak-anak yang bantu promosi,” katanya.
Peran ini membuka ruang baru bagi partisipasi sosial. Ekonomi kreatif tidak hanya menambah penghasilan, tetapi juga memberi alternatif pekerjaan bagi generasi muda pesisir.
Wisata Tambak: Mancing, Makan, dan Cerita Pesisir
Selain produksi ikan, Tambak Cemandi mulai mengembangkan wisata berbasis tambak. Beberapa petani tambak membuka wisata pemancingan, di mana pengunjung bisa memancing langsung di kolam dan membawa pulang hasil tangkapannya.
Di sekitar lokasi pemancingan, warga juga membuka warung bakar ikan. Ikan hasil pancingan bisa langsung dibakar dan dinikmati di tepi tambak.
Surya, pengunjung asal Sidoarjo, mengaku tertarik datang karena konsepnya berbeda.
“Biasanya makan ikan di rumah makan biasa. Di sini bisa mancing sendiri, terus ikannya langsung dibakar. Rasanya lebih segar dan suasananya enak karena dekat tambak,” kata Surya.
Wisata ini tumbuh dari keseharian warga. Kesederhanaan justru menjadi kekuatannya: pengunjung tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga melihat langsung proses budidaya ikan.
Tradisi dan Ekonomi yang Berkelindan
Di balik geliat ekonomi kreatif, warga Tambak Cemandi tetap memegang tradisi pesisir. Doa bersama sebelum panen dan kebiasaan gotong royong masih dijalankan.
Bagi Abdul, tambak bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga bagian dari identitas.
“Tambak ini sudah dari orang tua kami. Bukan cuma tempat kerja, tapi bagian dari hidup kami,” ucapnya.
Produk olahan laut, jasa cabut duri bandeng, hingga warung bakar ikan pun tidak hanya dilihat sebagai usaha ekonomi, melainkan sebagai kelanjutan dari budaya hidup masyarakat pesisir.
Tantangan: Alam dan Pasar
Meski potensinya besar, tantangan tetap ada. Perubahan cuaca memengaruhi kualitas air tambak. Hujan tak menentu membuat waktu panen sulit diprediksi. Di sisi lain, modal, peralatan produksi, dan promosi wisata masih terbatas.
Abdul mengakui, mereka masih belajar mengembangkan usaha baru di luar budidaya ikan.
“Kami bisa mengolah ikan, tapi soal kemasan dan promosi masih perlu belajar. Kalau usaha pemancingan dan warung ini dibantu berkembang, penghasilan bisa lebih bagus,” katanya.
Tambak sebagai Masa Depan
Tambak Cemandi menunjukkan bahwa desa pesisir tidak harus terjebak dalam satu sektor ekonomi. Dengan kreativitas, hasil tambak dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan industri rumah tangga, wisata pemancingan, kuliner lokal, dan usaha berbasis budaya.
Lebih dari sekadar tambak, desa ini sedang merumuskan masa depannya sendiri: ekonomi yang tumbuh dari laut, dikelola oleh nelayan, dan berakar pada tradisi.
Di ujung Sidoarjo, di antara air payau dan angin laut, ekonomi kreatif tidak lahir dari gedung-gedung tinggi. Ia tumbuh dari kolam tambak, dari dapur rumah, dari warung bakar ikan, dan dari semangat nelayan untuk mengolah apa yang mereka miliki menjadi harapan baru. (Irwan Susanto)
Visitors : 1472083