BABAD SIDOARJO
Seri I: Babad Kahuripan
Menelusuri Jejak Airlangga dan Awal Peradaban Delta Brantas
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya.” — Ir. Soekarno
KOMINFO, Sidoarjo - Jauh sebelum berdiri sebagai sebuah kabupaten, wilayah yang kini dikenal sebagai Sidoarjo merupakan bagian dari bentang alam Delta Brantas. Sungai Brantas beserta cabang-cabangnya membentuk hamparan tanah aluvial yang subur, jalur perdagangan yang ramai, dan pusat pertumbuhan permukiman sejak lebih dari seribu tahun silam.
Dalam lintasan sejarah Jawa Timur, kawasan ini pernah menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Airlangga. Kerajaan yang berdiri pada awal abad ke-11 itu menjadi tonggak kebangkitan Jawa Timur setelah keruntuhan Kerajaan Medang akibat peristiwa Mahapralaya.
Meski para ahli masih memperdebatkan letak pasti ibu kota Kahuripan, hampir semua sepakat bahwa kawasan Delta Brantas memiliki peran penting sebagai pusat pertanian, jalur transportasi sungai, dan penggerak roda perekonomian kerajaan.
Mahapralaya yang Mengubah Arah Sejarah
Sekitar tahun 1016 Masehi, Kerajaan Medang mengalami kehancuran akibat serangan Haji Wurawari. Peristiwa itu dikenal dalam historiografi Jawa sebagai Mahapralaya. Istana luluh lantak, Raja Dharmawangsa Teguh gugur, sementara seorang pangeran muda bernama Airlangga berhasil menyelamatkan diri bersama pengikut setianya, Narottama. Kisah pelarian itu kemudian terekam dalam Prasasti Pucangan, salah satu sumber primer terpenting mengenai kehidupan Airlangga.
Setelah beberapa tahun hidup dalam pengasingan, Airlangga berhasil menghimpun kembali kekuatan politik dan militer. Pada sekitar tahun 1019 Masehi, ia dinobatkan sebagai raja dan mendirikan Kerajaan Kahuripan—sebuah nama yang berasal dari kata hurip atau kehidupan, melambangkan harapan akan lahirnya kembali ketenteraman setelah masa peperangan panjang.
Prasasti Pucangan adalah sebuah batu prasasti penting peninggalan masa pemerintahan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang berangka tahun 963 Saka (1041/1042 Masehi) - Source doc foto Instagram Hilmar Farid - Sejarawan, Aktivis dan Pengajar
Delta Brantas, Nadi Kehidupan Kerajaan
Keberhasilan Airlangga tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militernya, tetapi juga oleh kemampuannya mengelola sumber daya air. Sungai Brantas menjadi jalur utama distribusi hasil pertanian, perdagangan, dan mobilitas penduduk. Wilayah yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo berada di bagian hilir sistem sungai tersebut, sehingga memiliki posisi yang sangat strategis dalam jaringan ekonomi kerajaan.
Salah satu bukti nyata perhatian Airlangga terhadap pengelolaan air adalah pembangunan Bendungan Waringin Sapta, yang dicatat dalam Prasasti Kamalagyan. Prasasti tersebut ditemukan di wilayah Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, dan menjadi bukti bahwa kawasan ini telah memiliki arti penting dalam pembangunan infrastruktur dan pengendalian banjir sejak abad ke-11.
Prasasti Pucangan, Sumber Utama Sejarah Airlangga
Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia, Dr. Ninie Susanti, menegaskan bahwa Prasasti Pucangan merupakan sumber sejarah yang sangat penting untuk memahami perjalanan hidup Airlangga.
"Prasasti Pucangan merupakan peninggalan penting di Nusantara, karena prasasti tahun 1037 Masehi itu berisi tentang riwayat hidup Raja Airlangga yang paling lengkap," ujarnya.
Menurut Ninie Susanti, prasasti tersebut bukan hanya menceritakan silsilah Airlangga, tetapi juga merekam proses kebangkitan kembali Jawa Timur setelah masa kehancuran. Karena itu, Prasasti Pucangan menjadi rujukan utama para sejarawan dalam merekonstruksi sejarah Kahuripan.
Garudamukha lancana adalah cap atau lambang kerajaan berbentuk muka burung Garuda yang digunakan oleh Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan pada abad ke-11 Masehi - source doc foto Museum Indonesia.
Garudamukha: Simbol Kebangkitan dan Legitimasi Kekuasaan
Tidak hanya tercatat dalam lembaran aksara Kawi, jejak kekuasaan Airlangga juga ditandai dengan penggunaan simbol Garudamukha Lancana—lambang resmi Kerajaan Kahuripan pada abad ke-11 Masehi yang dipahat pada bagian puncak prasasti-prasasti keluarannya.
Nama Garuda berasal dari bahasa Sanskerta. Dalam mitologi Hindu, Garuda digambarkan sebagai kendaraan (wahana) Dewa Wisnu—salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) yang dipercaya sebagai Sang Pemelihara Alam Semesta. Garuda dilukiskan memiliki kepala, sayap, ekor, dan moncong burung elang, serta tubuh, tangan, dan kaki seorang manusia.
Bagi Airlangga, penggunaan simbol Garuda bukan sekadar hiasan, melainkan legitimasi spiritual bahwa pemerintahannya hadir untuk memulihkan dan memelihara kembali kedamaian Jawa Timur pascakehancuran. Keagungan lambang Garuda ini kelak terus dipakai dan diwarisi oleh raja-raja Kerajaan Jenggala (abad ke-14–15 Masehi), yang dianggap sebagai penerus sah Kerajaan Airlangga di kawasan Delta Brantas.
Perspektif Sejarawan
Guru Besar Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Prof. Agus Aris Munandar, menjelaskan bahwa Prasasti Pucangan memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam historiografi Jawa karena merupakan prasasti yang dikeluarkan langsung oleh raja.
"Prasasti Pucangan adalah sebuah prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja atau raja, sehingga memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai sumber sejarah pemerintahan Airlangga," katanya.
Menurut Agus Aris Munandar, sumber-sumber primer seperti prasasti harus menjadi landasan utama dalam menafsirkan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, sehingga setiap rekonstruksi sejarah memiliki dasar ilmiah yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Prasasti Kamalagyan adalah piagam batu bersejarah dari tahun 959 Saka (1037 Masehi) yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga, penguasa Kerajaan Kahuripan - Source doc foto its.ac.id
Jejak Kahuripan di Sidoarjo
Walaupun belum ada bukti yang menyatakan pusat pemerintahan Kahuripan berada persis di wilayah Kabupaten Sidoarjo saat ini, sejumlah tinggalan sejarah menunjukkan bahwa kawasan Delta Brantas merupakan bagian penting dari jaringan ekonomi dan transportasi kerajaan.
Keberadaan Prasasti Kamalagyan di Krian menjadi bukti bahwa wilayah Sidoarjo telah berperan dalam pembangunan infrastruktur air sejak masa Airlangga. Sistem irigasi yang baik memungkinkan pertanian berkembang pesat dan menopang kehidupan masyarakat di sepanjang aliran Brantas.
Fondasi inilah yang kemudian menjadi titik tolak berkembangnya kawasan delta, yang pada abad-abad berikutnya melahirkan Kerajaan Jenggala, Singhasari, hingga Majapahit.
Merawat Jejak Peradaban
Sejarah Kahuripan mengajarkan bahwa kemajuan sebuah wilayah tidak hanya dibangun melalui kekuatan politik, tetapi juga melalui kemampuan mengelola alam, menjaga persatuan, dan membangun kesejahteraan masyarakat.
Bagi Kabupaten Sidoarjo, mengenali sejarah Kahuripan berarti memahami akar identitas daerah yang telah tumbuh sejak lebih dari seribu tahun lalu. Sungai, sawah, saluran irigasi, hingga permukiman yang berkembang di Delta Brantas hari ini merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban yang layak dikenali, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (Ir)
Bersambung ke Babad Sidoarjo — Seri II: Babad Kahuripan, tulisan berikutnya.
Visitors : 2075713