BABAD SIDOARJO
Seri II: Babad Jenggala, Bagian 2
Delta Brantas, Hujung Galuh, dan Jejak Awal Sidoarjo
Oleh: Irwan Susanto
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sidoarjo
Selasa, 13 Oktober 2026
Sungai yang Menghidupi Sebuah Kerajaan
KOMINFO SIDOARJO,- Jika Majapahit dikenal karena kejayaan politiknya, maka Jenggala berkembang karena kekuatan sungainya.
Pada abad ke-11, Sungai Brantas bukan sekadar sumber air. Sungai ini merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan pedalaman Jawa Timur dengan pesisir utara. Melalui aliran sungai inilah beras, garam, hasil hutan, logam, hingga berbagai komoditas diperdagangkan ke berbagai daerah di Nusantara.
Kawasan yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo berada di kawasan hilir Sungai Brantas. Posisi geografis tersebut menjadikan wilayah ini memiliki nilai strategis sebagai simpul distribusi perdagangan sejak masa Kahuripan hingga berkembangnya Kerajaan Jenggala.
Hujung Galuh, Gerbang Perdagangan Jawa Timur
Dalam berbagai kajian sejarah, Hujung Galuh dikenal sebagai salah satu pelabuhan penting di muara Sungai Brantas. Pelabuhan ini menjadi penghubung perdagangan antarpulau bahkan jaringan pelayaran internasional pada masa Jawa Kuno.
Sebagian ahli berpendapat bahwa kekuatan ekonomi Jenggala tidak terlepas dari penguasaan jalur perdagangan menuju Hujung Galuh. Meski demikian, hubungan administratif antara Hujung Galuh, pusat Kerajaan Jenggala, dan wilayah Sidoarjo modern masih menjadi bahan penelitian para sejarawan. Yang telah disepakati adalah bahwa kawasan Delta Brantas merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi terpenting di Jawa Timur pada abad ke-11.
Prasasti yang Menceritakan Jenggala
Jejak Kerajaan Jenggala tidak hanya hidup dalam tradisi lisan, tetapi juga terekam dalam sejumlah prasasti.
Salah satunya adalah Prasasti Turun Hyang II (966 Śaka/1044 Masehi) yang menyebut nama Mapanji Garasakan, raja yang dikenal sebagai penguasa awal Jenggala setelah pembagian Kerajaan Kahuripan. Prasasti tersebut juga memuat anugerah kepada masyarakat Desa Turun Hyang atas jasa mereka kepada kerajaan.
Selain itu terdapat Prasasti Kambang Putih, Malenga, Banjaran, dan Sumengka yang menjadi dasar para epigraf merekonstruksi silsilah raja-raja Jenggala. Walaupun jumlah sumbernya tidak sebanyak Majapahit, prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa Jenggala merupakan kerajaan yang memiliki sistem pemerintahan dan administrasi yang teratur.
Sidoarjo dalam Lanskap Jenggala
Wilayah Kabupaten Sidoarjo saat ini berada di bentang Delta Brantas yang sejak masa Airlangga dikenal sebagai kawasan subur dengan jaringan sungai yang padat.
Hingga kini belum ditemukan bukti arkeologis yang memastikan lokasi ibu kota Kerajaan Jenggala berada di wilayah Sidoarjo. Namun, sejumlah situs arkeologi dan temuan struktur bata kuno menunjukkan bahwa kawasan ini telah dihuni dan berkembang pada periode klasik Jawa Timur.
Bagi para arkeolog, temuan-temuan tersebut menjadi petunjuk penting untuk memahami perkembangan permukiman, perdagangan, dan pengelolaan wilayah di kawasan hilir Brantas, meskipun keterkaitannya dengan pusat pemerintahan Jenggala masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Perspektif Sejarawan
Dr. Ninie Susanti, Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia, dalam bukunya Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI (Komunitas Bambu, 2010), menegaskan bahwa sumber utama untuk memahami masa pemerintahan Airlangga adalah Prasasti Pucangan, karena prasasti ini mencatat riwayat hidup Raja Airlangga secara paling lengkap dibanding sumber lain yang ditemukan di Nusantara.
Menurut Ninie Susanti, prasasti tersebut menjadi pijakan utama bagi para sejarawan dalam merekonstruksi kebangkitan Kahuripan serta memahami proses lahirnya kerajaan-kerajaan penerus, termasuk Jenggala dan Panjalu.
Pandangan serupa disampaikan sejarawan Peter Carey, Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia, dalam kajiannya "The Kolkata (Calcutta) Stone and the Bicentennial of the British Interregnum in Java, 1811–1816" (IIAS Newsletter, Leiden, No. 74, 2016). Carey menjelaskan bahwa Prasasti Pucangan adalah piagam resmi yang dikeluarkan langsung oleh Sri Maharaja, sehingga memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai sumber sejarah pemerintahan Airlangga.
Menurut Carey, penulisan sejarah Jawa harus selalu bertumpu pada sumber primer berupa prasasti dan tinggalan arkeologi. Pendekatan tersebut memungkinkan sejarah direkonstruksi secara ilmiah serta membedakan antara fakta sejarah, interpretasi akademik, dan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat.
Warisan yang Masih Hidup
Meskipun Kerajaan Jenggala diperkirakan tidak bertahan selama kerajaan-kerajaan besar sesudahnya, pengaruhnya tetap membekas pada perkembangan kawasan Delta Brantas.
Jaringan sungai, pertanian lahan basah, serta jalur perdagangan yang berkembang sejak masa Kahuripan dan Jenggala menjadi fondasi bagi pertumbuhan pusat-pusat permukiman di Jawa Timur. Berabad-abad kemudian, kawasan yang sama menjadi bagian dari lanskap yang melahirkan Singhasari dan Majapahit.
Bagi Sidoarjo, sejarah Jenggala bukan sekadar kisah tentang sebuah kerajaan, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang membentuk identitas wilayah di hilir Sungai Brantas. Memahami sejarah ini berarti memahami bagaimana bentang alam, sungai, dan peradaban saling membentuk wajah Sidoarjo hingga hari ini.
Bersambung ke Babad Sidoarjo — Seri II: Babad Jenggala, Bagian 3: "Jejak Arkeologi Jenggala di Sidoarjo: Prasasti, Situs, dan Delta Brantas dalam Kajian Arkeologi Modern."
Visitors : 2315488