"Sejarah bukan hanya menceritakan masa lalu, tetapi menjelaskan mengapa suatu wilayah menjadi seperti sekarang."
Ketika Sebuah Kerajaan Lahir dari Jalan Damai
KOMINFO, Sidoarjo - Di sepanjang aliran Sungai Brantas yang membelah Jawa Timur, pernah berdiri sebuah kerajaan yang namanya masih hidup hingga sekarang: Jenggala. Meskipun tidak sebesar Majapahit dalam ingatan masyarakat, Jenggala memiliki arti penting karena menjadi salah satu mata rantai yang membentuk sejarah kawasan Delta Brantas, termasuk wilayah yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo.
Menurut sumber-sumber sejarah, Kerajaan Jenggala lahir setelah Raja Airlangga membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua sekitar tahun 1042–1045 Masehi. Wilayah bagian timur diserahkan kepada Mapanji Garasakan dan dikenal sebagai Jenggala, sedangkan wilayah barat menjadi Panjalu (Kadiri). Pembagian ini dilakukan untuk meredam potensi perebutan takhta di lingkungan keluarga kerajaan.
Mengapa Jenggala Penting bagi Sidoarjo?
Nama Jenggala tidak dapat dipisahkan dari bentang alam Delta Brantas. Kawasan hilir sungai yang kini meliputi sebagian wilayah Sidoarjo memiliki tanah yang subur, jalur air yang ramai, serta akses menuju pesisir utara Jawa. Kondisi inilah yang menjadikan kawasan tersebut sangat strategis bagi pertanian, perdagangan, dan pelayaran.
Namun demikian, para sejarawan mengingatkan bahwa letak pasti ibu kota Kerajaan Jenggala hingga kini belum dapat dipastikan. Ada beberapa hipotesis yang menempatkannya di kawasan Kahuripan, ada pula yang mengaitkannya dengan wilayah sekitar Sidoarjo dan Pasuruan. Karena belum ditemukan bukti arkeologis yang memastikan lokasi keraton, persoalan ini masih menjadi kajian akademik.
Suara Sejarawan
Sejarawan Peter Carey, Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia, dalam kajiannya "The Kolkata (Calcutta) Stone and the Bicentennial of the British Interregnum in Java, 1811–1816" (IIAS Newsletter, Leiden, No. 74, 2016), menegaskan pentingnya menggunakan prasasti sebagai landasan utama dalam merekonstruksi sejarah Jawa Timur. Carey menjelaskan bahwa Prasasti Pucangan adalah piagam resmi yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja, sehingga memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai sumber sejarah pemerintahan Airlangga.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pembahasan mengenai Kahuripan maupun Jenggala harus berpijak pada sumber primer, bukan hanya tradisi lisan atau legenda yang berkembang kemudian.
Dr. Ninie Susanti, Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia, dalam bukunya Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI (Komunitas Bambu, 2010), juga menegaskan arti penting Prasasti Pucangan sebagai peninggalan yang mencatat riwayat hidup Raja Airlangga secara paling lengkap.
Menurutnya, prasasti tersebut menjadi kunci untuk memahami masa transisi dari Kahuripan menuju lahirnya kerajaan-kerajaan penerus, termasuk Jenggala.
Raja-Raja Jenggala
Dibandingkan kerajaan lain di Jawa Timur, informasi mengenai Jenggala memang relatif terbatas. Berdasarkan sejumlah prasasti, nama-nama raja yang pernah memerintah antara lain Mapanji Garasakan, Mapanji Alanjung Ahyes, dan Samarotsaha.
Nama-nama tersebut diketahui dari beberapa prasasti seperti Prasasti Turun Hyang II, Prasasti Malenga, Prasasti Banjaran, dan Prasasti Sumengka. Melalui prasasti-prasasti inilah para ahli merekonstruksi perjalanan politik Jenggala pada abad ke-11.
Delta Brantas, Jantung Perekonomian
Jenggala tumbuh di kawasan yang memiliki jaringan sungai paling sibuk di Jawa Timur. Sungai Brantas dan percabangannya bukan hanya menjadi sumber air, tetapi juga jalur perdagangan yang menghubungkan pedalaman dengan pelabuhan-pelabuhan di pesisir.
Beras, garam, hasil hutan, dan berbagai komoditas diperkirakan diangkut melalui jalur air tersebut. Posisi strategis inilah yang kemudian menjadikan kawasan Delta Brantas sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi sejak masa Airlangga hingga berabad-abad sesudahnya.
Antara Fakta dan Tradisi
Di masyarakat Sidoarjo berkembang berbagai cerita mengenai lokasi keraton Jenggala maupun peninggalannya. Cerita-cerita tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan yang memiliki nilai budaya.
Namun, hingga kini para arkeolog belum menemukan bukti yang dapat memastikan lokasi pusat pemerintahan Jenggala secara pasti. Oleh karena itu, setiap informasi mengenai letak keraton harus dipahami sebagai hipotesis yang masih memerlukan pembuktian ilmiah. (Irwan/Kominfo)
Bersambung ke Babad Sidoarjo — Seri II: Babad Jenggala, Bagian 2, yang akan menelusuri jejak prasasti-prasasti Jenggala, hubungan kerajaan ini dengan wilayah Krian, Candi, Porong, dan Tarik, serta mengapa nama Jenggala tetap hidup dalam memori masyarakat Sidoarjo hingga masa modern.
Visitors : 2251797