KOMINFO, Sidoarjo – Langit malam bagi masyarakat modern mungkin hanya hamparan bintang yang dinikmati sesaat. Namun bagi masyarakat Nusantara masa lampau, langit adalah peta, kalender, sekaligus sumber pengetahuan. Melalui pengamatan yang diwariskan turun-temurun, mereka membaca musim, menentukan waktu bercocok tanam, hingga mengatur aktivitas sosial dan ritual keagamaan. Pengetahuan itulah yang diangkat dalam Seminar Hasil Kajian Koleksi Etnografika bertajuk “TATAL: Membaca Astronomi Lokal melalui Teknologi Tradisional” yang diselenggarakan UPT Museum Negeri Mpu Tantular, Kamis (4/6/2026).
Seminar yang berlangsung di Museum Negeri Mpu Tantular, Buduran, Sidoarjo, menghadirkan dua peneliti, Dr. Lucy Dyah Hendrawati, S.Sos., M.Kes. dari Universitas Airlangga dan Laras Aridhini, S.Ant., M.A., periset antropologi dan pengetahuan kebudayaan. Keduanya memaparkan hasil kajian mengenai Tatal, sebuah artefak tradisional yang menyimpan pengetahuan astronomi lokal masyarakat Nusantara.
Bagi sebagian orang, Tatal mungkin tampak sebagai benda sederhana. Namun di balik bentuk fisiknya tersimpan kecerdasan budaya yang berkembang dari pengalaman panjang masyarakat dalam memahami alam.
Menurut Dr. Lucy Dyah Hendrawati, masyarakat tradisional memiliki kemampuan observasi yang luar biasa terhadap fenomena alam yang terjadi di sekeliling mereka.
“Pengetahuan astronomi lokal lahir dari hubungan yang sangat dekat antara manusia dan lingkungannya. Masyarakat membaca perubahan alam secara terus-menerus dan mengubahnya menjadi sistem pengetahuan yang berguna bagi kehidupan sehari-hari.”
Kemampuan membaca pergerakan benda-benda langit tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai perangkat tradisional yang berfungsi sebagai alat bantu penentuan waktu maupun penanda musim.
Laras Aridhini menjelaskan bahwa artefak seperti Tatal menunjukkan bagaimana teknologi tradisional berkembang dari kebutuhan praktis masyarakat.
“Benda-benda etnografika tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga menjadi media penyimpan pengetahuan. Melalui koleksi seperti Tatal, kita dapat memahami bagaimana masyarakat lokal membangun cara pandang terhadap ruang, waktu, dan alam semesta.”
Warisan Pengetahuan yang Tersimpan dalam Artefak
Di tengah berkembangnya teknologi modern, pengetahuan tradisional sering kali terlupakan. Padahal, berbagai koleksi museum menyimpan jejak intelektual masyarakat masa lalu yang tidak kalah penting dibandingkan teknologi masa kini.
Agustin Tri Ariyani dari Museum Negeri Mpu Tantular, menilai bahwa kajian terhadap koleksi museum merupakan upaya untuk mengungkap kembali lapisan makna yang tersimpan di balik sebuah artefak.
“Artefak tradisional seperti Tatal tidak hanya merekam teknologi masyarakat masa lalu, tetapi juga cara berpikir, cara membaca alam, dan sistem pengetahuan yang berkembang di lingkungannya. Karena itu, kajian terhadap koleksi museum menjadi penting untuk membuka kembali makna yang tersimpan di balik benda budaya.”
Menurut Ariyani, museum pada masa kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah. Museum juga memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan penelitian dan menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat.
“Warisan budaya tidak hanya hadir dalam bentuk bangunan atau benda kuno, tetapi juga dalam sistem pengetahuan yang diwariskan antargenerasi. Koleksi museum menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat Nusantara membangun pengetahuan tentang alam, ruang, waktu, dan kehidupan.”
Astronomi Lokal dan Kearifan Nusantara
Jauh sebelum hadirnya teleskop modern, masyarakat Nusantara telah mengembangkan berbagai metode untuk memahami fenomena langit. Pengetahuan mengenai peredaran matahari, bulan, dan gugusan bintang menjadi dasar dalam menentukan musim tanam, waktu melaut, hingga pelaksanaan berbagai tradisi adat.
Dalam perspektif antropologi, kemampuan tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak selalu lahir dari institusi formal, melainkan juga tumbuh dari pengalaman hidup masyarakat yang berlangsung selama berabad-abad.
Tatal menjadi bukti bahwa masyarakat masa lalu mampu menciptakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan zamannya. Melalui pengamatan yang berulang dan diwariskan lintas generasi, lahirlah berbagai sistem pengetahuan yang membantu manusia beradaptasi dengan lingkungannya.
Museum sebagai Jembatan Masa Lalu dan Masa Depan
Seminar hasil kajian koleksi etnografika ini menjadi bagian dari komitmen Museum Mpu Tantular dalam mengembangkan fungsi edukasi dan penelitian. Melalui kajian ilmiah, museum berupaya menghadirkan informasi yang lebih mendalam mengenai koleksi yang dimilikinya sehingga tidak hanya dipandang sebagai benda pajangan, tetapi juga sumber ilmu pengetahuan.
Tatal menjadi contoh bagaimana sebuah artefak sederhana dapat membuka pemahaman tentang kecanggihan masyarakat Nusantara dalam membaca fenomena alam. Pengetahuan tersebut lahir bukan dari laboratorium modern, melainkan dari pengalaman panjang, pengamatan yang cermat, dan kearifan yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah kemajuan teknologi digital, kajian seperti ini menjadi pengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki tradisi ilmu pengetahuan yang tumbuh dari kebudayaannya sendiri. Langit yang sama yang kita lihat hari ini pernah menjadi ruang belajar bagi leluhur Nusantara untuk memahami dunia.
Melalui Tatal, Museum Mpu Tantular mengajak masyarakat kembali menengok warisan intelektual masa lalu, sekaligus menyadari bahwa kemajuan peradaban tidak hanya dibangun oleh teknologi modern, tetapi juga oleh pengetahuan lokal yang telah hidup dan berkembang selama berabad-abad. (Irwan Susanto)
Visitors : 1868606