KOMINFO, Sidoarjo - Pagi belum sepenuhnya terang ketika deru mesin perahu memecah sunyi pesisir Cemandi, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Satu per satu perahu kecil meninggalkan garis pantai, mengarah ke laut lepas. Di kampung ini, hari dimulai dari air, dari angin, dan dari harapan.
Bagi sebagian besar warga, laut bukan sekadar latar kehidupan. Ia adalah sumber utama penghidupan. Namun yang diburu bukan hanya ikan, melainkan kerang—komoditas yang sejak lama menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir Cemandi.
Perjalanan para nelayan tidak singkat. Dari pesisir, mereka harus bergerak hingga ke perairan yang berbatasan dengan Selat Madura. Di sanalah mereka mengais dasar laut dengan alat sederhana, mencari kerang yang tersebar di antara pasir dan lumpur.
Ahmad (47), nelayan yang sudah puluhan tahun melaut, merasakan betul perubahan itu. Ia mengingat masa ketika kerang masih mudah didapat di dekat pantai.
“Sekarang sudah beda. Dulu tidak perlu jauh, dekat sini sudah dapat. Sekarang harus ke tengah, kadang sampai arah Selat Madura,” ujar Ahmad.
Perubahan itu bukan sekadar soal jarak. Waktu tempuh bertambah, bahan bakar meningkat, dan risiko di laut pun makin besar. Namun bagi Ahmad dan nelayan lainnya, pilihan hampir tidak ada.
“Kalau tidak melaut, ya tidak ada pemasukan. Jadi tetap berangkat, walaupun hasilnya belum tentu,” katanya.
Di darat, kehidupan bergerak mengikuti hasil laut. Kerang yang dibawa pulang akan disortir, dibersihkan, lalu dijual ke pengepul. Dari tangan para nelayan, kerang-kerang itu mengalir ke pasar-pasar di Surabaya dan sekitarnya.
Tokoh masyarakat sekaligus pengepul kerang, H. Sulaiman (60), menyebut bahwa aktivitas ini telah berlangsung lama dan menjadi identitas kampung.
“Kerang ini sudah jadi sumber hidup warga sejak dulu. Dari sini bisa kirim ke pasar besar. Tapi sekarang memang semakin sulit, karena hasilnya tidak seperti dulu,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan kondisi laut menjadi tantangan utama. Pendangkalan, cuaca yang tidak menentu, hingga dugaan pencemaran membuat hasil tangkapan semakin berkurang.
“Laut sekarang tidak bisa ditebak. Kadang ada, kadang kosong. Nelayan jadi harus lebih jauh dan lebih lama di laut,” tambahnya.
Situasi ini membuat kehidupan nelayan berada dalam ketidakpastian. Dalam satu hari, hasil tangkapan bisa cukup untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi di hari lain bisa jauh dari harapan.
Meski demikian, tradisi melaut tetap bertahan. Anak-anak di Cemandi tumbuh dalam lingkungan pesisir, akrab dengan perahu, jaring, dan cerita tentang laut. Profesi sebagai nelayan bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan.
Bagi warga, meninggalkan laut bukan perkara mudah. Selain keterbatasan pilihan pekerjaan, ada ikatan kuat yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
“Ini sudah turun-temurun. Mau susah atau tidak, tetap dijalani. Karena dari sini kami hidup,” kata H. Sulaiman.
Menjelang siang, perahu-perahu mulai kembali ke darat. Ember berisi kerang diangkat perlahan, menjadi hasil dari perjalanan panjang sejak pagi. Tidak selalu banyak, tetapi cukup untuk menjaga kehidupan tetap berjalan.
Di tengah berbagai tantangan, nelayan Cemandi terus bertaruh pada laut. Mereka menyusuri pesisir utara hingga Selat Madura, mengais harapan dari dasar perairan yang semakin sulit diprediksi.
Di kampung kecil ini, kehidupan mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya, ada keteguhan yang tak banyak terlihat—tentang manusia, laut, dan upaya bertahan di antara keduanya. (Irwan Susanto/Diskominfo)
Visitors : 1583195