KOMINFO, Sidoarjo - Ketika sejarah Majapahit dibicarakan, ingatan publik hampir selalu tertuju pada Trowulan—bekas ibu kota kerajaan besar itu. Candi-candi bata merah, kolam Segaran, dan kisah raja-raja agung seolah mengunci pusat perhatian di satu titik. Namun di balik kemegahan itu, ada wilayah lain yang diam-diam menopang denyut kehidupan Majapahit: Sidoarjo.
Pada abad ke-14, wilayah yang kini bernama Sidoarjo bukan sekadar daerah pinggiran. Letaknya yang strategis di pesisir timur Jawa, dekat muara sungai-sungai besar seperti Brantas, menjadikannya simpul penting antara pedalaman agraris dan jalur perdagangan laut. Dalam konteks kerajaan maritim-agraris seperti Majapahit, posisi semacam ini bernilai vital.
Wilayah Penyangga: Logistik, Pangan, dan Spiritualitas
Majapahit bukan hanya kerajaan politik, melainkan juga sistem ekonomi dan budaya yang kompleks. Untuk menopang pusat kekuasaan di pedalaman, dibutuhkan daerah penyangga yang mampu menyediakan kebutuhan dasar kerajaan: pangan, hasil tambak, hingga jalur distribusi.
Sidoarjo memenuhi semua fungsi itu. Kawasan ini sejak lama dikenal subur dan kaya sumber daya air. Sistem pertanian sawah dan tambak berkembang berdampingan, memungkinkan produksi beras, ikan, dan hasil pesisir secara berkelanjutan. Inilah fondasi ekonomi yang menopang kehidupan istana dan kota-kota kerajaan.
Selain fungsi logistik, wilayah penyangga juga memiliki peran spiritual. Dalam kosmologi Hindu–Buddha Jawa, keseimbangan antara pusat dan pinggiran sangat penting. Daerah-daerah di luar ibu kota menjadi ruang ritual, tempat pendharmaan, dan simbol penjaga harmoni alam.
Candi Pari: Penanda Sejarah yang Tegas
Jejak peran strategis Sidoarjo pada masa Majapahit paling jelas terlihat dari keberadaan Candi Pari. Candi ini berdiri di Desa Candipari, Kecamatan Porong, dan bertarikh tahun 1371 M—masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Dibangun dari bata merah khas Majapahit, Candi Pari menunjukkan gaya arsitektur Hindu dengan pengaruh kuat India namun telah beradaptasi dengan tradisi lokal Jawa Timur. Candi ini diyakini sebagai tempat pemujaan atau pendharmaan, bukan sekadar bangunan ibadah biasa.
Keberadaan Candi Pari menegaskan satu hal penting: Sidoarjo bukan wilayah kosong yang kebetulan tersentuh pengaruh Majapahit, melainkan bagian integral dari sistem kekuasaan kerajaan. Tidak sembarang daerah dibangun candi resmi pada masa itu—hanya wilayah yang memiliki nilai politik, spiritual, dan ekonomi.
Candi Sumur dan Pamotan: Fragmen Sejarah yang Tercecer
Selain Candi Pari, Sidoarjo juga menyimpan situs lain seperti Candi Sumur dan Candi Pamotan. Meski tidak seutuh dan sepopuler Candi Pari, keberadaan kedua situs ini memperkuat gambaran bahwa wilayah Sidoarjo merupakan lanskap religius pada masa Hindu–Buddha.
Candi Sumur, dengan struktur yang sederhana dan terkait dengan sumber air, menunjukkan pentingnya unsur air dalam ritual keagamaan Majapahit. Air tidak hanya dimaknai sebagai kebutuhan hidup, tetapi juga sarana penyucian dan simbol kesuburan.
Sementara itu, Candi Pamotan—meski kini tinggal jejak—menjadi penanda bahwa aktivitas keagamaan dan pemukiman kuno tersebar luas di wilayah ini. Fragmen-fragmen bata dan temuan arkeologis mengisyaratkan adanya jaringan situs yang lebih besar, sebagian hilang oleh waktu dan perubahan lanskap.
Sidoarjo dalam Jaringan Perdagangan Majapahit
Letak Sidoarjo yang dekat dengan pesisir menjadikannya penghubung antara jalur sungai dan laut. Dari wilayah ini, hasil bumi dan tambak dapat dialirkan ke pelabuhan-pelabuhan pesisir, lalu diperdagangkan ke wilayah Nusantara lain.
Majapahit dikenal sebagai kerajaan dengan jaringan perdagangan luas, dan Sidoarjo berperan sebagai salah satu simpul distribusi itu. Perahu-perahu kecil menyusuri sungai, membawa hasil pertanian dan perikanan dari desa-desa penyangga menuju pusat perdagangan.
Dengan demikian, Sidoarjo bukan hanya penopang pasif, tetapi bagian aktif dari ekonomi maritim Majapahit.
Jejak yang Tertutup Zaman
Sayangnya, peran penting Sidoarjo dalam sejarah Majapahit sering luput dari narasi besar. Industrialisasi, urbanisasi, dan perubahan alam—termasuk bencana modern—telah menutupi banyak jejak masa lalu.
Namun candi-candi yang masih berdiri dan situs-situs yang tersisa menjadi pengingat bahwa wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai ruang strategis kerajaan besar. Membaca Sidoarjo hanya sebagai kota industri modern berarti mengabaikan lapisan sejarah yang membentuk identitasnya.
Membaca Ulang Sidoarjo
Jejak Majapahit di Sidoarjo mengajarkan satu hal penting: sejarah tidak hanya ditulis di pusat kekuasaan, tetapi juga di wilayah penyangga yang bekerja dalam senyap. Tanpa daerah seperti Sidoarjo, kejayaan Majapahit tak akan berdiri kokoh.
Hari ini, ketika Sidoarjo terus tumbuh dan berubah, jejak-jejak itu layak dibaca ulang—bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai fondasi identitas wilayah yang pernah menjadi bagian penting dari salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. (irw/Diskominfo)
Referensi
• Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Balai Pustaka
• Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur
• Data dan kajian arkeologi Candi Pari, Candi Sumur, dan Candi Pamotan
• Prasasti Majapahit abad ke-14 (era Hayam Wuruk)
Visitors : 934174